Untuk Perempuan Yang Kunamai Kebetulan

0a9ce8e263d822e6fc10a466b3c0c5f1--final-fantasy-ix-fantasy-series

Untuk Perempuan Yang Kunamai Kebetulan

Apa kamu pernah memainkan sebuah video game berjudul Final Fantasy? Seri berapapun tidak masalah. Pernahkah? Ah, aku bahkan tidak bisa menebak kamu menyukai video game atau malah membenci. Atau biasa biasa saja. Tetapi jika nanti kamu punya waktu luang, coba periksa. Paling tidak kamu bisa membuka youtube dan mencari soundtrack  game Final fantasy, yang mana saja. Pilih satu dan dengarkan. Padamkan cahaya, tutup pintu kamarmu dan tarik kain jendelamu. Pejamlah, dan mulai mendengar dengan hati.

baca juga: menerima kenyataan

Ah maaf, aku menyuruhmu melakukan hal yang entah kenapa sedang kulakukan. Kecuali mungkin pada bagian “kamar, cahaya, pintu, dan jendela”. Setidaknya dari sekian kemungkinan aktivitas yang bisa saja kulakukan sore ini, di dalam ruang megah berselimut gelombang wi-fi tak terlihat (yang mana diluar hujan bertengkar dengan bumi tanpa ampun), aku tanpa sengaja membuka halaman internet dan mendengarkan Final Fantasy. Apa yang istimewa? kau tahu, aku bisa bisa berjam-jam menceritakan semua hal tentang game itu hingga mungkin kita terlupa tentang hujan di balik jendela. Mungkin aku akan mulau menyeracau tentang memori dan kenangan betapa bahagianya hidup sebagai anak-anak. Atau mungkin kau akan tersenyum melihat aku begitu bersemangat menerangkan tentang Playstation pertama yang dibelikan ayahku (yang secara normal tak mungkin membelikan hal-hal semacam itu). Tapi tidak. Beri aku beberapa udara kosong lagi untuk bercerita.

Mungkin kamu pernah mendengar sebuah celetukan (aku percaya bahwa semua kata bijak yang ada didunia sebenernya adalah celetukan yang kebetulan) bahwa pada akhirnya manusia hanya akan bergantung dan bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Sepertinya celetukan itu cukup tepat, paling tidak untukku saat ini. Kesendirian terkadang mengasah manusia menjadi tajam. Aku mengibaratkan kesendirian seperti seorang ibu yang menyediakan ruang tamu kosong untuk dua orang saudara kembar yang sedang bertengkar agar bisa saling berdiskusi, menerima, dan memaafkan. Ruang kosong untukku berbicara dengan diriku sendiri, untuk akhirnya memahami dan memaafkan.

baca juga : Tentang melepaskan

Aku berhasil bermufakat dengan diriku sendiri bahwa, inspirasi dan motivasi harus kucari sendiri. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, aku tidak lagi bergantung pada orang lain. Dan kau tahu, ruang kosong itu membuatmu sadar bahwa hal hal kecil bisa menjadi pemicu langkah dan pembuka pikiran. Hal-hal kecil yang terlalu biasa hingga hampir selalu terabai. Seperti warung donat yang sudah buka segera setelah subuh. Satpam kampus yang mengatur parkir waktu jumatan. Semut kecil yang melubangi plastik pembungkus gula. Atau penjaga perpus yang mengembalikan letak kursi semula setelah ditinggal begitu saja oleh mahasiswa yang tidak berperikemahasiswaan.

Menariknya, aku jadi lebih peka. Bahkan pada kebetulan. Pada kebetulan yang usil memperdengarkan lagu final fantasy ini, di tempat ini, di jam ini. Pada kebetulan yang sengaja menyeretmu di tempat ini (juga, tapi berjarak dua kursi di belakangku), di jam ini (juga), dan saat aku mendengarkan lagu final fantasy. Hingga pada akhirnya aku mengajakmu berbicara dalam bahasa diam (atau mungkin kau tak merasa kuajak bicara) sambil menoleh malu malu.

Ah, Semesta selalu berulah. Aku jadi tak yakin inspirasi ini datang dari mana. Lagu final fantasy? Mungkin iya mungkin bukan. Sebab saat ini, bahkan kedipan matamu memberiku inspirasi.

 

NB: apakah semesta bisa berulah dua kali? :D

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.528 pelanggan lain

Follow

Follow Di Sudut Pandang Fajar on WordPress.com
Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: