Menjadi Abadi

mengajar

abadi

menjadi abadi

 

Adalah manusiawi memiliki keinginan panjang umur dan kekekalan hidup.

Apalagi bila dibekali dengan kenyamanan dan kesuksesan yang bertumpuk-tumpuk. Maka jika ditelusuri lebih dalam di rel sejarah yang panjang, usaha-usaha yang ditelateni manusia untuk hidup abadi ternyata telah ada hampir sama tuanya dengan umur manusia itu sendiri. Tersebutlah sejarah para alkimiawan kuno seluruh dunia yang mencari keberadaan manifestasi keabadian dalam berbagai bentuk. Philosopher’s stone, elixir of life, amrita, al-iksiir, dan sebagainya. Dikenal kemudian konsep anti aging seperti obat-ramuan herbal, antioksidan, terapi sel punca, anti aging nanotechnology, rekayasa genetika, bahkan hingga yang masih bersifat mitos seperti human cloning (kloning manusia) dan cryonics technology (teknologi pembekuan). Manifestasi tersebut berevolusi bersama perubahan zaman, menjadi lebih modern secara konseptual, tetapi dengan tujuan yang sama yakni hidup abadi, atau paling tidak, berumur panjang.

Pada akhirnya, beragam usaha manusia hanya berkutat pada realitas fisik. Tentu saja lumrah, kehidupan dunia memang terikat pada dimensi fisik. Tapi mengingat dunia sains sampai tulisan ini dibuat belum juga berhasil melahirkan satupun metode jitu terkait umur panjang dan keabadian, mari sejenak kita beranjak ke realitas yang sedikit berbeda. “Keabadian” dalam bentuk yang berbeda. Keabadian yang lebih manusiawi.

Menulis.

Menulis akan membuat seseorang hidup lebih lama dari usia sebenarnya. Menulis adalah tentang meniupkan serpihan jiwa pada rangkaian kata, sebuah perwujudan diri yang utuh. Tulisan-tulisan yang akan terus dibaca. Ia seperti monumen yang memorial. Diksi, gaya penulisan, rasa, adalah karakter khusus yang jarang sekali serupa. Membaca tulisan seseorang berarti membaca kepribadian sang penulis. Tulisan adalah satu-satunya cara seseorang berkomunikasi dengan jutaan kepala bahkan saat sang penulis telah lama mati. Seseorang akan terus hidup dalam tulisannya hingga tulisannya dianggap tidak lagi menarik dan terlupakan.

Mengajar.

Mengajar berarti memahat monumen diri sendiri di dalam sosok orang lain. Mengajar berarti melihat citra diri berkembang dan bertumbuh dalam diri orang lain. Mengajar pula berarti mentransformasi diri menjadi mata rantai yang akan terus memanjang dan memanjang, membentuk ikatan kokoh yang saling tersambung, terhubung. Mengajar adalah seni meyalurkan keikhlasan, dan memberikan panutan. Lisan, tulisan, dan tingkah laku merupakan media ajar yang amat kuat apabila dibalut dengan kesungguhan jiwa. Selama beberapa kurun waktu, sosok pengajar akan tetap hidup bersama apa yang dia ajarkan, bahkan jauh setelah kematian fisiknya.

Ternyata menulis dan mengajar saja tidak cukup untuk membuat seseorang menjadi abadi.

Terdapat kunci penting yang tanpanya, seorang penulis akan meluntur habis bersama zaman dan seorang pengajar akan hilang bersama cepatnya laju peradaban. Kunci yang diperoleh dari sulitnya ketekunan belajar dan penatnya mempelajari kebijaksanaan hidup, yang tentu saja tidak dimiliki oleh manusia kebanyakan. Ya, pada akhirnya tidak semua manusia mampu hidup abadi bukan?

Kunci itu adalah ideologi.

You can kill a person, but an ideology will last forever. Begitu pepatah mengatakan. Seseorang bisa mati dan terbunuh, tetapi tak ada satupun yang mampu membunuh ideologi. Ideologi yang berisi satu set pemikiran dan jalan hidup komprehensif. Apatah lagi ideologi yang dituliskan serta diajarkan secara rapih, runtut, tuntas, dengan metode yang kukuh. Saat itulah seorang manusia tak lagi terikat pada realitas fisik. Ia akan terus hidup, melegenda. Menembus zaman, mengikuti kencangnya roda masa yang merubah kepribadian dunia. Ia bisa saja hilang sementara, namun kemudian muncul kembali.

Siapa tak kenal Muhammad (semoga keselamatan atasnya). Meski seorang yang ummi (tak bisa baca tulis), Muhammad berhasil dengan gigih dan ikhlas mengajar bangsa arab kuno yang terbelakang, jauh dari peradaban yang manusiawi. Tentu saja bukan sekadar mengajar. Muhammad mengajarkan ideologi. Mengajarkan pemikiran dan jalan hidup. Perlahan tetapi pasti, kehidupan arab kuno bergerak menuju kebudayaan yang jauh lebih maju dan yang terpenting, manusiawi. Mengajarkan ideologi yang mampu mendidik manusia mengetahui hakikat diri, meraih makna kehidupan, dan menjadi manusia seutuhnya. Ideologi yang berisi seperangkat aturan dan tata laku, pedoman menjadi manusia sempurna diantara ketidaksempurnaannya. Ia tetap hidup meski telah wafat empat belas abad yang lewat.

Menyusul kemudian sokrates, plato, laizzes faire, karl marx, dan lain sebagainya. Meski tidak berefek sedahsyat apa yang dibawa Muhammad (semoga keselamatan atasnya), mereka masih hidup sampai saat ini bersama ideologi yang mereka tulis dan ajarkan. Semuanya hidup dan berumur panjang, lepas dari keterikatan pada dimensi fisik. Abadi, kekal. Setidaknya berumur amat panjang.

Maka, jika ingin menjadi manusia yang abadi, mulai sekarang berdisiplinlah dalam proses. Proses penempaan diri dan mengisi penuh otak serta memperbaiki tingkah laku. Proses menemukan ideologi dan menjadi ideologis. Bersikaplah tegas dan jangan mengabu-abu. Rangkumlah ia menjadi tulisan yang runut, rapih, dengan metodologi yang baik. Jadilah pengajar dan ajarkan ideologi tersebut pada sebanyak-banyak orang dengan kegigihan, keikhlasan, dan sepenuh jiwa. Kau akan melihat dirimu tetap hidup, bahkan ketika kau tak mampu lagi melihat.

 

“Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan ideologi”

 

Bogor, 29 januari 2019. 00:55.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.528 pelanggan lain

Follow

Follow Di Sudut Pandang Fajar on WordPress.com
Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: