Sorry, Tak Ada Waktu Untuk Abu-Abu

88a8438eb447937c6b7d1c49c74d0322

Sorry..

sorry

Sumber Gambar

Sorry..

kita tak sejalan

Sepertinya kita tak sepaham

Sorry..

Sorry..

.

.

Adalah sebuah keniscayaan bahwa perubahan tidak pernah berhenti. Sejarah bisa saja berulang, namun keadaan zaman pasti berubah seiring umur peradaban yang menua. Setiap yang terikat dimensi waktu tak akan statis. Karena waktu sendiri sebenarnya hanyalah alat ukur dinamika perubahan. Tak terkecuali manusia. Sejak jaman kakek Adam sang manusia pertama, sampai Adam Jordan sang pesinetron legendaris hidup di bumi, kehidupan manusia terus berkembang, bertumbuh, dan bertambah. Perubahan yang menyeluruh, level individu maupun sebagai sebuah bangsa.

Hingga kini sampailah kita pada zaman-zaman akhir. Masa-masa dimana slogan-slogan “global-mengglobal-globalisasi” diucapkan dengan bangga oleh tiap-tiap bangsa. Zaman yang diklaim sebagai puncak peradaban manusia. Beserta instrumen-instrumen kehidupan yang berkembang amat pesat jauh diluar nalar, yakni budaya, gaya hidup, bahasa, ilmu pengetahuan dan teknologi, hukum, sistem sosial ekonomi tata negara, dan lain sebagainya.  Perkembangan instrumen kehidupan perlahan merubah karakter manusia, dan perubahan karakter manusia semakin merangsang semakin berkembangnya instrumentasi kehidupan. Siklus yang saling mempengaruhi.

Maafkan saya atas prolog yang terlalu panjang. Saya hanya ingin menggambarkan bahwa perubahan yang dialami dunia adalah hal yang wajar. Sunnatullah. Dan itu terjadi di setiap inchi permukaan dan kedalaman bumi, termasuk di negeri dimana tulisan ini saya buat. Indonesia.

Saya menghabiskan dua puluh lima tahun hidup di Indonesia tanpa pernah sekalipun keluar. Sungguh akhir-akhir ini perubahan yang terjadi di negeri ini berlari amat cepat. Segala hal terjadi di indonesia dalam kurun periode yang tergesa-gesa. Dan unfortunately, bukan dalam artian yang baik. Indonesia berubah, sel-sel tubuhnya makin menua, organ-organnya rusak oleh penyakit  menahun yang menggerogoti dari dalam. Kronis. Sang Ibu bukan lagi sedang bersusah hati. Ia sakit, dan mungkin saja koma menunggu mati.

Berawal dari obat yang salah.

Negeri yang kehausan akan pemimpin bijak, tegas dan sesuai kulturnya ini, malah disodori pemimpin yang membawa berliter-liter citra-citra baik. Pencitraan yang membawa-bawa nama rakyat kecil dibungkus rapi dengan kemeja putih tergulung lengan yang kotor setelah blusukan di gorong-gorong. Seperti terbius aspirin, bangsa yang sudah tak bisa menahan sakit ini menenggak citra-citra itu cepat-cepat, berharap sakitnya hilang, paling tidak berkurang. Citra-citra baik itu begitu banyak sehingga negeri ini bukannya sembuh malah kembung perutnya, bahkan tenggelam di dalamnya gelagapan menggapai-gapai permukaan.

Bangsa indonesia sedang dalam kebingungan yang dahsyat. Kebohongan demi kebohongan disuntikkan satu persatu demi menenangkan bangsa yang mulai sadar dan berontak.

Diawali dengan komitmen lima tahun yang dilanggar. Diet kabinet yang gagal dan membuatnya tetap gemuk karena rakusnya bagi-bagi kue kuasa. Putusnya janji untuk tak mengimpor daging sapi. Rakyat mesti menjilat anyirnya harga bahan bakar minyak yang naik berkali-kali hanya dalam tempo tiga tahun. Cabai dan jengkol jadi makanan luxury. Ketidak adilan dan tebang pilih hukum. Sumber waras, kabut asap pembakaran hutan sampai ke negeri seberang, berakhir tanpa kabar. Sementara pedagang keliling yang masih berstatus terduga, berakhir tanpa nyawa. Bahkan tanpa kesempatan berbicara. Saling tuding, saling lempar dan menyakiti hati. Bahkan seorang ahli tata negara terpaksa harus memberi gelar “amatiran” pada pemimpin bangsa karena tak membaca peraturan yang harus ditandatanganinya. Ayolah. Bahkan sekelas ketua himpunan mahasiswa biologi pun akan habis dicaci habis-habisan bila berlaku seperti demikian. Ah. Ibu pertiwi mengucurkan darah lagi.

Semua perubahan ini semakin keterlaluan. Penguasa sudah amat durhaka pada kulturnya.

Melukai komunitas yang sudah ada sebelum mereka lahir. Bahkan jauh sebelum ide merah putih jadi bendera negeri. Entah karena tendensi atau pengetahuan sejarah yang minim, elemen bangsa yang menjadi bidan lahirnya negeri indah ini disakiti, dan pelakunya diberi tempat terhormat, bahkan berjalan-jalan sesumbar mengumbar janji dan berjualan citra-citra di kampung-kampung, siap untuk memulai siklus yang sama. Pemuka-pemuka agamanya dikriminalisasi dengan berbagai tuduhan, dengan kecepatan proses hukum yang membuat takjub.

Dan selama dua puluh lima tahun saya hidup di dunia, baru kali ini dan baru di negeri ini saya menyaksikan sendiri seseorang dipidana karena memberikan fakta yang bersumber dari karya ilmiahnya. Ya! bukan tulisan hoax atau omongan pepesan kosong, melainkan sebuah tesis! Karya ilmiah yang, tentu saja, dibuat melalui studi yang disiplin, dikerjakan dengan metode yang sudah diverifikasi, diuji dan diluluskan oleh ahli-ahli yang berkompeten, serta disahkan oleh institusi pendidikan yang sah dan terlegitimasi. Sementara di sisi lain dengan remehnya pemimpin bangsa menilai sebuah buku yang diduga menulis tentang dirinya dengan sebutan “tidak ilmiah” karena penulisnya hanya lulusan SMA. Padahal setahu saya, dalam tataran akademik, yang berhak menentukan kualitas “keilmiahan” adalah lembaga akademik yang sah. Bukan pejabat negara. Selain itu, kesalahan pada produk akademis semestinya dijawab dengan produk akademis lainnya, bukan diancam penjara. Atau mungkin saya salah. Wah celakalah saya, yang salah padahal sudah hampir dua puluh tahun bersekolah.

Kedurhakaan ini sudah melampaui batas. Bukan hanya karena melukai, ia merangsang tumbuhnya kedurhakaan-kedurhakaan lain bagi elemen-elemen bangsa yang kurang banyak membaca dan menalar.

Sentimen anti arab yang berujung pengusiran bernada sinis semacam “pakai baju arab, gaya arab, kenapa ga tinggal di arab aja sekalian“. Tuduhan keji “intoleransi” berbalut indahnya kalimat “mempertahankan kebhinekaan” pun merebak di mana mana. Dengan mudahnya orang dicap sebagai penyebar kebencian. Pengungkap kesalahan dianggap meresahkan keutuhan bangsa. Represifnya aparat terhadap kebebasan mengemukakan pendapat. Pengkritik penguasa ditangkap dengan delik hate speech, atau minimal penyebar berita hoax. Penangkapan pun dilakukan dengan cara -cara tak lazim seperti tengah malam, yang entah mengapa mirip dengan kejadian masa lalu. Ketidakadilan tiba-tiba menyebar dengan gesit bukan lagi seperti cendawan di musim hujan, tetapi seperti penularan wabah sakit mata di asrama mahasiswa.

Ditengah-tengah kekacauan, fitnah dan kedurhakaan ini, ternyata masih banyak yang mencoba berbaik sangka pada kesalahan. Atau mungkin juga gejala keterbelakangan intelektual ditengah intelektualitas yang sedang melaju kini.

Berbaik sangka pada orang yang mengaku salah, mungkin adalah perbatan baik. Tapi berbaik sangka pada kesalahan? wah, mesti pikir-pikir lagi, bung!

Mungkinkah berbaik sangka pada seorang pria misterius berbaju putih yang masuk ke rumah kita tengah malam lewat jendela? Atau patutkah berbaik sangka pada perempuan tua bersanggul berbaju merah yang teriak teriak menggedor pintu rumah dengan ucapan “pindah saja dari lingkungan sini” sembari menjuali kursi-kursi teras kita diam diam, hanya karena baju setelan yang berbeda?

Atau memang kita tak sepaham?

Sorry, mungkin memang harus pisah jalan.

Karena.

Sorry, tak ada waktu untuk abu abu.

.

.

Bogor, 24 Januari 2017 pukul 1:42 dini hari. Bersama lagu netral, SORRY.

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.528 pelanggan lain

Follow

Follow Di Sudut Pandang Fajar on WordPress.com
Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: