Suatu Ketika : Sepatu Orang Lain

IMG_9820

Suatu siang sepulang kuliah dulu, saya dan beberapa teman, seperti biasa mengisi perut di kantin fakultas perikanan. Dan seperti biasa, kami tidak hanya makan. Kami mengobrol. Biasanya banyak topik. Kali ini topiknya adalah beberapa hal tentang si B.

Si B itu gimana sih. ~Kata seseorang memulai pembicaraan.

Iya. Dia kok kayak gak niat kuliah begitu. Gak pernah masuk. ~Sambung yang lain.

Telatan pula. Jarang ngumpul tugas. Denger denger sih nilai kuisnya banyak yang jelek. ~Timpal yang lainnya.

Padahal kuis matakuliah A gampang banget. Aku aja dapet delapan rata rata. Masa dia gitu aja nggak bisa. ~sambungnya berapi api.

Dia emang kayak punya dunia sendiri. ~kata saya pula.

Si B memang berbeda. Seperti yang dibicarakan. Hampir semua teman sekelas berpendapat si B tertutup. Sulit berkomunikasi dan jarang berteman. Beberapa malah seringkali kesal karena tingkah lakunya. Beberapa hanya geregetan. Saya sendiri sering dongkol juga. Tapi penasaran.

Pada akhirnya saya dan beberapa teman menggali informasi tentang si B dari yang kami anggap teman teman dekatnya. Alhasil ternyata si B memendam masalah keluarga yang cukup rumit. Terlalu rumit untuk dibebankan pada mahasiswa semester lima bahkan.

Akhirnya kami paham sesuatu.

Si B telah berusaha sekuatnya untuk tetap fokus dan hadir di kuliah kuliahnya. Tetap berusaha mengerjakan semua kuis dengan baik. Tetap berusaha menjaga janji dan menepati waktu. Sekuatnya.

Kenapa semuanya selalu tentang kita? Tentang aku. Aku saja bisa, masa dia tidak. Aku saja yang tinggal jauh dari sini tepat waktu, masa dia terlambat. Aku saja yang nilainya jelek jarang bolos, masa dia jarang hadir.

Tiap orang punya pertarungannya sendiri. Pertarungan yang tidak kita tahu, atau tidak ingin diketahui oleh kita.

Tiap orang punya jalan yang telah dan akan dia lalui. Ragam rintangan dan duri yang bahkan mungkin belum pernah kita lihat sebelumnya. Jalan yang dia lalui sekuat tenaga.

Sesekali, tidak buruk juga mencoba berjalan memakai sepatu orang lain. Membayangkan apa yang terjadi pada diri kita saat menempuh jalan yang orang lain lalui. Mungkin kita setegar itu, atau lebih terpuruk.

Empati bukanlah hal yang buruk. Memahami kondisi. Bukan melihat diri kita pada orang lain. Bukan pula membuat standar standar yang kita bakukan dan mengukur orang lain dengan itu.

Memang mustahil merasakan perasaan yang sama dengan orang lain. Merasakan beratnya beban tanggung jawab, merasakan harapan yang hancur, merasakan hati yang pecah, merasakan ragu yang tak kunjung berhenti, merasakan nyeri dan kejenuhan yang melilit. Mustahil.

Tapi kita bisa mencoba.

Dengan mengerti, kita bisa membantu dengan cara yang baik. Selain itu, tak ada nasihat yang paling baik selain yang berasal dari hati yang tulus.

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.528 pelanggan lain

Follow

Follow Di Sudut Pandang Fajar on WordPress.com
Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: