Suatu Ketika : Tentang Melepaskan

ca334ab5850b8bcd2c21d97a2876f600

melepaskan serpihan kayu

sumber gambar : Link

Suatu sore di masa lalu, saya meringkuk di sofa ruang tamu. Saya memegangi telunjuk kanan yang berdarah setelah bermain perang-perangan dengan adik. Di ruas kedua jari telunjuk saya tertancap serpihan kayu, agak tebal dan cukup panjang. Meski Ibu saya sudah membersihkan luka dan darahnya, luka itu masih pedih dan perih, serpihan kayunya masih tertinggal. Kata ibu, biar bapak yang mencabut.

Saat itu, saya berharap bapak segera pulang. Perih yang luar biasa, untuk anak sd seperti saya saat itu, semakin membuat saya tidak sabar menunggu. Kehadiran bapak memunculkan harapan bahwa perih di telunjuk saya segera lenyap. Bapak biasanya pulang setengah jam lagi. Saya memijit-mijit telunjuk saya. Terlihat serpihan kayu coklat menembus cukup dalam.

Bapak datang, dan saya takut saat bapak mengambil jarum. Terjawab sudah pertanyaan saya tentang bagaimana sakit di telunjuk saya akan hilang. Bapak tidak mau berbohong dengan mengatakan prosesnya tidak akan sakit. Telunjuk saya digenggam, dan dengan jarum bapak mulai membuat cuilan-cuilan di kulit saya, disekitar serpihan. Ternyata lebih pedih. Bapak membuat lukanya semakin besar.

Luka yang menjadi lebar mengakibatkan ujung serpihan mencuat keluar. Sedikit, tapi jauh lebih jelas terlihat dibanding tadi. Bapak meletakkan jarum dan membersihkan luka dengan alkohol. Wah, pedihnya sudah selesai, saya pikir. Ibu jari dan telunjuk bapak berusaha mencubit menggamit-gamit ujung serpihan itu. Pedihnya bertambah. Dan semakin sakit lagi ketika bapak perlahan-lahan mencabut serpihan kayu, yang ternyata panjangnya hampir 1 cm. Saya menjerit.

Bapak tersenyum. Sakit sebentar, agar cepat sembuh dan tidak membusuk.

Ini tentang melepaskan. Membiarkan pergi hal-hal yang tidak bisa kita gapai. Melepaskan hal-hal yang melukai hati dan membuat sakit perasaan. Berdamai dengan kekecewaan, dan memaafkan.

Siapa bilang mudah. Tak perlu membohongi diri dengan mengatakan prosesnya tidak akan sakit. Bahkan sebenarnya amat sakit dan amat sulit. Jauh lebih nyeri dan susah dari luka itu sendiri. Tidak mudah dan tidak akan pernah mudah. Melepaskan.

Perasaan yang hancur dalam sekejap. Rasa hormat yang meleleh karena pengkhianatan. Rasa sayang yang tertusuk kebohongan. Harapan yang dijatuhkan oleh kenyataan. Rencana yang hancur berantakan karena menabrak dinding batas yang tidak bisa dilewati. Kecewa. Dendam. Benci.

Semuanya serpihan kayu yang menancap dalam di hati. Seperih-perihnya, lebih perih lagi jika harus memafkan dan melepaskan.

Prosesnya sulit, lama, dan menyakitkan. Kadangkala, waktu pun tak bisa sembuhkan. Karena serpihannya masih disana.

Namun sudah pasti, satu-satunya cara agar hati sembuh kembali adalah dengan mencabut serpihannya. Sakit sebentar, agar hati kembali sembuh dan tidak membusuk.

 

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.528 pelanggan lain

Follow

Follow Di Sudut Pandang Fajar on WordPress.com
Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: