Suatu Ketika : Sekumpulan Memori

wp-image-882369131jpg.jpg

Saya memutuskan untuk mengeluarkan telepon genggam, dan membuka aplikasi kamera. Suatu malam, di ramainya pusat perbelanjaan. Modus kamera saya ganti ke kamera depan, dan mengajak lima kawan yang lain untuk berfoto. 

Dua dari mereka menolak. Didorong rasa malu. Ramai orang, alasannya. Orang-orang melihat, alasan lainnya.

Saya menolak juga. Tetapi yang saya tolak adalah alasan mereka. Saya punya alasan pula untuk itu. Orang orang tidak memperhatikan, alasan saya. Orang orang tidak peduli pada kita, alasan saya.

Mereka setuju. Foto berhasil disimpan. Dan setelah berfoto, saya menambah penjelasan untuk alasan saya.

Foto adalah manifestasi kuat bagi memori. Jauh lebih kuat dari ingatan, karena foto memiliki bentuk fisik, setidaknya secara konotatif, karena bentuk sebenarnya adalah kode kode digital.

Apalah kita tanpa memori?

Bukankah kita hanya sekumpulan memori? Memori yang kita punya dan memori yang orang lain punya tentang kita?

Bayangkan suatu ketika kamu tiba tiba amnesia total. Kamu tidak ingat sesiapa. Bahkan melupakan namamu sendiri. Saat itu kamu bahkan tidak yakin apakah merasa seperti baru terlahir, atau sudah mati.

Bayangkan suatu ketika identitasmu hilang dan memori tentangmu dilupakan. Tidak ada yang ingat siapa dirimu. Tidak ada yang mengenali ciri-cirimu. Siapa kamu? Bukankah itu seperti mati jiwa? Mati sebelum ajal?

Siapa sudirman. Siapa sukarno. Siapa imam bonjol. Bukankah mereka sudah lama mati? Secara harafiah mereka mati. Tapi sebenarnya mereka hidup, karena nama mereka tak pernah hilang dalam memori.

Mumpung masih bisa mencipta memori. Buatlah memori sebanyak banyaknya. Memori yang baik bagi orang orang baik. Memori manis yang tertancap dalam di benak banyak orang. Agar kamu abadi.

Mumpung masih bisa mencipta memori. Simpanlah memori baik baik. Urut per urut, dengan detail. Pajang wajah wajah orang orang yang memasuki hidupmu dalam ingatan. Karena nama mereka dan kisah kisah itu kelak tak akan bisa kau temui lagi selain dalam bentuk memori. Agar kamu dan mereka abadi.

Apa boleh buat. Kita hanya sekumpulan memori.

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.528 pelanggan lain

Follow

Follow Di Sudut Pandang Fajar on WordPress.com
Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: