Suatu Ketika : Menerima Kenyataan

Menerima Kenyataan

Menerima Kenyataan

Sumber Gambar : Link

Suatu malam, saya merebahkan lelah di tempat tidur. Sepulang dari laboratorium melepas tanggung jawab harian penelitian untuk skripsi, tentang cendawan. Berjalan sendiri selalu membuat saya memikirkan banyak hal, melamunkan a sampai z, meski sebiasa berjalan sepulang dari laboratorium. Dan biasanya pikiran pikiran itu saya bawa ke kamar, bersama tubuh yang merebah.

Saya memikirkan hal-hal yang akhirnya tersangkut di pelupuk mata. Membuat saya mengulur-ulur waktu tidur, dan terbangun dalam keadaan tidak cukup istirahat. Biasanya bila saya bangun dalam keadaan kurang tidur, kepala menjadi berat, emosi yang tidak stabil, serta perasaan seperti marah, tetapi tidak tahu marah pada siapa. Seharian. Pada akhirnya banyak hal di hari itu yang saya lalui dengan cara yang salah.

Seringkali yang saya pikirkan sebelum tidur adalah tentang ketidakpuasan. Tentang apa yang saya capai saat ini yang jauh dari target. Tentang kenyataan yang jauh dari harapan. Tentang hasil yang mestinya masih bisa saya usahakan dengan jauh lebih baik.

Seringkali yang saya pikirkan saat rebahan adalah tentang rasa tidak adil. Saya sudah hampir lima tahun belum lulus, sementara teman saya sudah settle bekerja di perusahaan dengan gaji yang lumayan. Proyek penelitian skripsi saya yang njelimet dan harus dilakukan berulangkali demi kelulusan, sementara beberapa teman saya lulus dengan penelitian yang menurut saya sangat mudah. Doa, ibadah dan usaha yang saya lakukan tanpa henti menghasilkan kesulitan dan kenyataan yang mengecewakan, sementara teman saya yang menurut saya tidak sekencang itu doa dan ibadahnya, apalagi usahanya, mendapat kemudahan menjalankan hidup pasca kampus.

Seringkali yang saya pikirkan adalah tentang rasa geram. Kenapa saya harus bertemu dosen yang seperti itu. Kenapa saya harus diberi tanggung jawab yang terlalu banyak. Kenapa saya yang dibebankan seperti ini. Kenapa orang lain tidak?

Setelah beberapa tahun kemudian, saat ini, saya menarik sebuah kesimpulan.

Bahwa saya, kamu, kita, seringkali membenci orang lain atas sesuatu yang tidak mampu kita raih. Kita seringkali pada akhirnya membenci orang lain atas kenyataan yang tidak mampu kita ubah. Dan pula, seringkali kita menyalahkan orang lain atas keadaan yang kita tidak mampu kita buat gambarannya di masa depan.

Padahal, seringkali menerima dengan ikhlas kenyataan yang tidak mampu kita ubah itu lebih menenangkan.

Menjaga sesuatu yang saat ini kita punya seringkali lebih menentramkan ketimbang membenci yang tidak mampu kita raih. Seringkali menghadirkan “kita seutuhnya” pada keadaan saat ini lebih baik ketimbang mengkhawatirkan masa depan yang belum terjadi.

Setidaknya, hal-hal itu akan membuat kita tidak tertidur dalam rasa benci, tidak bangun dalam keadaan kurang istirahat, dan tidak merusak hari esok.

“Since we cannot change reality, let us change the eyes which see reality.”~ Nikos Kazantzakis

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.528 pelanggan lain

Follow

Follow Di Sudut Pandang Fajar on WordPress.com
Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: