Jangan bunuh harapan kami, Pandji!

ahok

ahok

Salam.

Ini tulisan pertama saya yang bergenre serius. Sejujurnya saya belum pernah berani menulis genre seperti ini karena saya saja malu pada diri saya sendiri, khusunya tentang betapa sedikitnya referensi yang saya baca. Tapi, hey. Bukankah selalu ada langkah pertama pada tiap-tiap sesuatu? Baiklah. saya mungkin mencantumkan beberapa nama dalam tulisan ini. Tetapi semoga semua yang membaca percaya ini bukanlah masalah personal. Ini hanyalah satu bentuk penyaluran kegelisahan. You know, keeping the negative energy is bad for your body, right?

Oke. Mari kita mulai. Siapa yang setuju bahwa negeri kita sedang diujung tanduk? Is it only me, or is it true? You know, masalah yang seperti tidak pernah berhenti menyerang tiap inci negeri ini. Kemiskinan. Dekadensi moral. Kriminalitas. Hipocracy. Hilangnya batas jelas antara salah dan benar. Publik figur yang tak ubahnya seperti pramuwisata menuju jurang dasar bumi. Sistem pendidikan yang memprioritaskan nilai dan melempar jauh moral etika. Acara televisi tak berkualitas. Artis-artis sosmed yang dengan bangganya menyebarkan kehidupan pribadinya yang, you know, immoral modernity, mengaku tidak munafik dan jujur pada diri sendiri (yah kalo ‘mau tampil di tv padahal di yutub bilang yutub lebih dari tv’ gak diitung kemunafikan). Lawakan basi. Kaum muda intelek pembaca banyak buku yang kecanduan doping western culture (sebut saja feminisme, liberalisme, komunisme). Buruh asing. So-called-fundamentalism-and racist-problem. Sinetron dua puluhan episode yang ditanyangin live yang semua adegannya diruang sidang. Dan lain sebagainya.

Wait. Did i missed something?

Tentu saja. Panggung parodi politik yang bikin perut mual setengah mati.

Ugh. Jujur, kegelisahan tentang inilah motivasi terbesar saya berani menunjukkan kecupuan saya di depan publik dengan menulis tulisan yang gak ada seujung kukunya tulisan pandji pragiwaksono (kalau tulisan panji punya kuku sih), atau seujung lidahnya ratna sarumpaet ini. Kegelisahan yang bergejolak dalam dada, dengan cara yang berbeda dengan gejolak saat jatuh cinta pertama, pastinya. But, that is the point. Im sick of this. Muak bung.

Coba lihat. Telaah pelan pelan. Di indonesia, saat ini. Seolah-olah cerita perebutan kekuasaan adalah hal paling penting. Everytime, everyplace. Hampir semua media membicarakan perbutan kekuasaan antar tokoh (sebagian besar ditokohkan), ya pasti khususnya media yang di backup oleh peserta kompetisi politik. Pilkada DKI. Pilpres. Pileg. Selalu. Always. Cuma itu. Membahas langkah politik. Maju. Koalisi. Tim sukses. Pemenangan. Kecurangan. Intinya, pemilihan! Setelah terpilihpun, masih membicarakan pemilihan. Panggung inilah tempat dikreasikannya drama, pencitraan. Penokohan. Penjatuhan. Fitnah. Gali borok tutup borok. Muncullah nama nama seperti ahok, risma, ridwan, anis, agus, yusril, dan nama nama lainnya.

Saya tidak mengerti. Bukan. Bukan saya menganggap cerita tentang konstelasi politik itu hal yang tidak penting. Saya pengagum agus salim, tjokroaminoto, natsir, yang semuanya adalah tokoh politik. Tapi hey. Bukan berarti semua harus tentang itu! Ugh, that drama.

Semua politik. Jabatan digunakan untuk agenda politik selanjutnya. Kemenangan partai di lembaga legislatif habis ceritanya di kisah tawar menawar pencalonan gubernur walikota bupati. Jumlah pemilih yang gak tau apa-apa berakhir jadi salam tempel jatah mentri. Yang katanya akan diperamping dan diisi lebih banyak oleh kaum profesional dan nyatanya tidak. Dukung-mendukung yang mengeksitasi kader-kader kutu loncat untuk berpindah tempat dan berganti topeng. Dan saat semua sudah reda, drama politik belum selesai.

Terlalu banyak masalah yang mesti dihadapi, dialami, dipikirkan oleh masyarakat. Not to mention about that slogans! Teman wong cilik (yang belakangan jadi wong licik), katakan tidak pada korupsi, lebih baik ngomong feses (t*i) daripada korupsi, dan yang lain lain. Saya yakin kita bisa dengan jernih menilai apakah slogan slogan itu bohong atau bohong.

Semua permasalahan pun seperti dipolitisasi. Banjir jakarta diklaim sebagai warisan gubernur yang lalu. Macet juga. sebaliknya, Keberhasilan pembersihan kali busuk diklaim sebagai kinerja yang bukan dari gubernur selanjutnya. Ketua partai agama yang tiba-tiba kena dakwaan korupsi hanya dalam waktu beberapa hari sehingga harus masuk penjara, meninggalkan image buruk yang gak bisa dicuci pakai detergen manapun. Pejabat kesayangan pengembang swasta yang berkali-kali didakwa korupsi dengan bukti yang patut dipertimbangkan malah kasusnya tertelan persidangan pembunuhan kopi beracun. Ampun deh. Dramanya njelimet.

Pusing bukan? Saya plus mual.

Tapi, let me explain something. Tahu gotham city? kotanya Batman si manusia kelelawar? Kota yang penuh kriminal, korupsi sampai ke akar-akar kota, pembunuh pemerkosa perampok berkeliaran di tengah kota? Kenapa masih ada optimisme dan semangat di dalam kota tersebut? Apakah karena ada batman? lantas kenapa batman tetap kuat bertarung?

Kenapa naruto tetap bangkit meski dihajar berkali-kali?

Kenapa?

Siapa itu, sang pahlawan terakhir yang tak mati-mati?

Dia adalah Harapan. Hope.

Harapan lah yang membuat batman tetap kuat dan yakin bahwa kota serusak gotham bisa kembali benar. Harapan itu pula yang menginspirasi munculnya polisi-polisi baik ditengah polisi korup sistemik di GCPD. Harapan lah yang membuat naruto mampu bangkit berkali-kali.

Dan, Harapan lah yang membuat masyarakat, termasuk pemuda cupu seperti saya masih optimis pada negeri ini.

Sampai satu saat, saya membaca tulisan idola saya, pandji pragiwaksono di webnya. Soal Keterlibatannya dalam aksi dukung mendukung konstelasi politik ibukota. Feels like, the hope is slowly gone.

Dalam tulisannya yang berjudul pilih, Pandji berapi-api menceritakan ke “seratuspersenan”nya mendukung salah satu calon gubernur ibukota. Anis. No. There is nothing wrong about that. Or the person he support to. Tidak ada yang salah. Saya hanya menyayangkan beberapa hal.

Satu. Ada drama yang menipu dan kontradiksi dari pikirannya dalam tulisan itu. He said “dont be an A” when he acted like an A. Pandji menulis, pada kubu anies terdapat orang-orang yang serupa pendukung alay sepakbola, yang caranya mendukung klub favoritnya harus menghina klub lain. Dan di tulisan lain dia mengatakan, kita tak butuh orang orang seperti itu di kubu kita. Wait. Did you count yourself in too, didnt you, pandji? Sebab yang saya baca di keseluruhan sisa tulisanmu adalah hinaanmu terhadap tokoh lain (yang bahkan statusnya belum calon, sebut saja yusril, dhani, lulung). Yah meskipun agak tricky dan tersirat. Selain itu pandji menyebut secara serampangan orang-orang dibalik calon dengan sebutan kampret dan numpang tenar doang. Sebut saja fadli, SBY,  bang bewok, dan lain lain. Beberapa malah masih berdasarkan prasangka. Semuanya dimaksudkan untuk menampilkan kesan baik bagi orang yang tidak di hina, tentu saja. Really, was that really you, pan?

Dua. Unfair. Pandji meninggikan seseorang dengan menyebut kebaikannya dan menutup keburukannya, sementara menyebut kekurangan orang lain tanpa menyebut kebaikannya. Kalimatnya dimulai dengan “ahok itu keren lagi”. Ya. Saya seratus persen setuju. Agree! Bahwa ahok membawa keberhasilan saat menjabat. Di zaman dia, kali memang jadi bersih (tanpa melihat jumlah dan perbandingannya, serta kapan dan oleh siapa proyek itu dimulai). Dan kebaikan-kebaikan lain.

Tapi Pandji tidak menyebutkan kekurangannya kecuali bermulut kasar dan pembawaan publik (yang katanya masalah selera). Apa belum sampai kabar tentang ahok terjerat sumber waras, ahok terjerat pengembang dan reklamasi, padamu, dear pandji? Apakah kamu seorang yang saking overdosenya terhadap media mainstream yang menutupi kasus itu sehingga tumpul nalar tentang apa yang sebenernya terjadi pada ahok?Atau sudahkah kamu googling soal apapun bersih karena ahok? Bahkan jurus duga-duga yang kamu sematkan pada tokoh lain pun tidak kamu sampaikan buat ahok. Bagaimana dengan yusril, dhani, lulung, yang kamu sebut sebagai penyuram pilgub dki? bagaimana dengan fadli, yang kamu sebut sebagai pencetus pilgub berbasis perang agama? didnt they have any good deeds?

Tiga. More Unfair. Youve said about perang agama oleh kaum pendukung anies. Sebut saja PKS dan FPI. yang selalu bawa-bawa agama dalam kampanye ataupun mengkampanyekan. Have you watched youtube about ahok in a curch, giving some speech? Why didnt you mention that? oh come on, Pandji. You could be better than that.

Empat. Kamu menyebut orang-orang yang jidat hitam karena rajin sholat tidak pernah merasa salah dan merasa mereka lah orang baiknya. Dan ditambah statemen prinsipal bahwa memahami sebelum membenci. Apakah statemen ini tidak membuat kamu berada diposisi yang sama, pandji, merasa kamu lah orang baiknya? Drama apa lagi ini?

Kalian mungkin merasa ini adalah tulisan orang yang sakit hati. Haters yang cari tenar. Curhat tak jelas. Mungkin berprasangka saya pendukung salah satu calon atau pendukung salah satu pendukung calon. Atau mungkin menganggap tulisan anak-anak yang marah-marah di medsos. Silakan saja. Siapapun berhak untuk itu.

Pandji pun sah sah saja menganggap tulisan ini adalah salah satu dari sekian banyak tulisan hatersnya. Atau tulisan orang yang gampang termakan dan membagi berita tanpa membaca sampai selesai. Atau tulisan orang bersumbu pendek yang reaktif.

Tapi, seperti yang sudah saya sampaikan di awal. Ini adalah luapan kegelisahan. Kekecewaan. Dan kekecewaan itu muncul hanya pada orang yang pernah disayangi. Seperti kekecewaan anak kecil yang tau bahwa superhero idolanya ternyata pembunuh bapaknya. Pandji, i am somehow disappointed in you, sir.

Satu hari saya menonton kompetisi stand up comedy di tv, dan terpana dengan quote yang kamu ucapkan.

“Stand up comedy bukan hanya berarti kamu membuat orang lain tertawa, tapi kamu berdiri, berbicara, dan stand up for what you believe”. Katamu.

Dan kemudian melihatmu menghina orang-orang yang stand up for what they believe (sebut saja salah satunya kaum agamis yang memiliki prinsip tertentu pada kriteria pemimpin,) atas nama persatuan, itu sangat mengecewakan. Saya bahkan tak mampu membuat metafora untuk itu.  Dimana kekesatriaanmu?

 Sekali lagi ini bukan masalah cagub, ataupun dukung mendukung. Ini masalah harapan. Pandji adalah kaum intelektual muda. Brilian. Dan publik figur. Di bahunyalah bersemayam sesuatu yang kita sebut harapan tadi. Dan sekarang, sang pemilik bahu telah menelan keadilannya sendiri. Menyeru jangan A sembari melakukan A. Hanya menyebut kebaikan orang yang diangap baik dan hanya menyebut keburukan orang yang dianggap buruk. Just like the other drama player.

Tolong, pandji. Atau semua pahlawan muda tempat harapan itu bersemayam. Jangan bunuh pahlawan terakhir kami. Jangan bunuh Harapan. Jangan berevolusi jadi sosok yang tak pantas kami titipkan harapan itu. Hope dies, nation dies.

Natsir (perdana mentri indonesia) pernah berkata. “Fir’aun menjadi sosok yang lalim bukan semata-mata kesalahannya sendiri. Tapi juga kesalahan rakyatnya yang tidak mau berkata tidak”. You know, itulah yang terjadi ketika harapan sudah mati. Semua usai. Dan pembawa harapan baru yang datang, akan disambut dan didukung sepenuh hati. Seperti Musa.

Jangan bunuh harapan kami.

Salam.

NB:

  1. saya bukan pendukung salah satu calon gub dki
  2. bahasa inggris saya kacau. saya minta maaf untuk itu.
  3. Tulisan pandji bisa dibaca di  sini

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.528 pelanggan lain

Follow

Follow Di Sudut Pandang Fajar on WordPress.com
Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: