Cerpen: Riuh di pagar kejaksaan

si tua di kejaksaan

si tua di kejaksaan

(Sumber ilustrasi : si tua di kejaksaan)

Putih dan hitam langit sudah terpisah jelas bersama merah di ufuk. Wirid pasca subuh baru saja reda. Deru angkutan dan lalu lalang manusia seperti biasa riuh rendah di hari kerja. Aroma kemacetan belum terlalu terasa. Lampu-lampu kejaksaan negeri masih tertutup, seperti pintu dan pagarnya. Di mana si tua itu menyandarkan punggung berjas model lama abu-abu kebiruan. Jas yang ia pakai saat meng-akad nikahi mendiang istrinya yang mati ketika melahirkan anak ketiga.

Si tua memilih duduk di depan pagar ketika dibuka satpam, menghadap nanar ke jendela utama gedung, dan mengelus janggut. Tak terdengar satu katapun keluar dari mulutnya. Si tua bersila bagai gunung sinabung, kokoh dan berwibawa. Namun tak cukup wibawa untuk dapat perhatian dari warga yang terhipnotis oleh pekerjaan.

Mata nanar si tua bertemu mata-mata menyipit cibir beberapa pejabat kejaksaan yang baru saja datang. Beberapa memberinya receh, beberapa memberinya umpatan. Si tua mengembalikan recehan dan menyimpan umpatan. Sesekali kopiahnya digoyangkan mengusir panas dan menguapkan keringat, sementara tangan kanannya masih mengusap janggut. Di musholla seberang gedung reramai orang keluar masuk sujud-rukuk dhuha. Si tua bangkit dari sila, sujud-rukuk dhuha dua belas rakaat, kemudian kembali ke depan gerbang dan duduk bersila mengelus janggut menggoyang kopiah. Si tua masih kokoh seperti sinabung, yang meletus memakan ratusan korban, tapi tidak ada yang menggubris.

Sepasang sejoli memperhatikan si tua karena mengembalikan dua lembar uang lima ribuan pemberian mereka. Pertanyaan mereka apakah bapak mengemis dijawab gelengan kepala. Tiga pertanyaan selanjutnya tentang nama, asal, dan tujuan dijawab dengan mulut rapat dan menyisakan penasaran. Meski mulut si tua diam, mulut dua sejoli tidak. Mereka mengulurkan rantai komunikasi mulut ke mulut pada warga yang ngaso, warga pengangguran, bahkan penghuni kontak telepon genggam mereka. Dua tiga orang yang memakan umpan penasaran mulai mengerumuni si tua. Menyusul dua tiga lagi, kemudian dua tiga lagi. Si tua masih bersila mengusap janggut dan menggoyang kopiah. Penjual warung kopi sebelah musholla yang baru saja kembali dari kampungnya bersikeras meyakinkan pengunjung dadakan bahwa si tua dipanggil dengan sebutan pak haji, meski ia baru saja mengarang panggilan itu sepuluh menit yang lalu, selesai menyeduh kopi pejabat kejaksaan yang bolos.

Pejabat kejaksaan yang bolos menghampiri satpam kejaksaan setelah diseruputnya kopi kental dalam-dalam hingga habis. Dia bersama beberapa pejabat kejaksaan lainnya membentak-bentak satpam dan menunjuk-nunjuk ke arah pak haji, dan melengos masuk gedung dan mengumpat-umpat seperti yang dia lakukan pagi tadi.

Satpam kejaksaan yang baru saja dibentak menghampiri pak haji dan memberondongnya dengan pertanyaan, persis seperti tiga pertanyaan yang dilemparkan dua sejoli pemberi uang lima ribuan tadi.

Pak haji masih konsisten dengan jawaban heningnya. Namun kali ini tidak mengundang penasaran, melainkan amarah.

Satpam yang termakan umpan amarah memerah mukanya, membentak-bentak pak haji dan menyebut kata-kata “usir”, “pergi”, “pukul” berulang ulang pada pak haji. Pak haji kini bak pemerintah yang tidak menggubris dentuman letupan gunung sinabung yang memakan ratusan korban. Satpam semakin murka. Digamitnya kasar-kasar kerah jas pak haji, menyeretnya keluar trotoar. Pak haji masih duduk bersila, menatap nanar, mengelus janggut dan menggoyang kopiah.

Pak haji masuk headline. Tv satu menulis besar besar tulisan “Siapa Sosok Pak Haji?” dalam acara berita siang. Tv sembilan menulis “Pak Haji Sang Penuntut Keadilan” pada tulisan berjalan acara tvnya. Kian terdengar kabar sejalan dengan bertambah panjang rantai kontak mulut ke mulut. Pak haji orang kebal. Pak haji titisan ratu adil. Pak haji simbol revolusi kaum proletar dan pengganyang kaum kapitalis. Pak haji reinkarnasi Che Guevara. Pak Haji titisan Kartosuwirjo. Pak haji ini. Pak haji itu.

Tiga orang berseragam brimob menggamit bagian kerah yang digait oleh satpam pagi tadi. Tanpa hasil. Seorang brimob menunggu perintah pemimpinnya lewat HT, sementara sepasukan membuat pagar berduri di sekeliling gerbang. Namun memperparah keadaan. Pengunjung dadakan membludak. Ruas jalan protokol mandek lima belas kilometer, tidak sepanjang macetnya tol cipali saat mudik lebaran, tetapi tetap menjengkelkan penghuni mobil-mobil pribadi. Brimob berpangkat briptu memopor punggung pak haji. Bibir pak haji masih rapat. Pak haji masih bersila.

Semua ormas mulai saling klaim. Pak haji seorang sufi aswaja yang telah mencapai ilmu makrifat. Ormas lain mengumpulkan massa dan berkumpul di balik pagar berduri, menggaungkan kecaman ketidak adilan sistem demokrasi dan meneriakkan khilafah. Satu ormas melakukan anti klaim di media dan mengecam pak haji yang menurut mereka tidak sesuai sunnah karena menghina pemimpin didepan umum. Satu ormas mencibir pak haji dengan sebutan ahli syirik karena dipercaya menggunakan jampi-jampi ilmu kebal. Satu ormas mengadakan rapat internal pemimpin tentang pembukaan peluang pak haji maju sebagai salah satu calon legislatif di sayap partainya. Ormas bawah tanah yang dulu pernah dilarang pemerintah menyebut-nyebut pak haji sebagai anti kerukunan berbangsa. Pak haji masih mengusap janggut.

Gabungan aparat represif. Muncul empat ratus orang yang menamakan dirinya laskar berani mati pendukung pak haji di depan gedung. Berteriak-teriak mundur presiden. Beri keadilan pada pak haji. Siap mati demi pak haji. Massa lain melebur. Senjata gas air mata berdentum. Mata-mata-mata berair. Air dari meriam air menyemprot liar mementalkan beberapa orang hingga membentur median jalan. Batu-batu mulai terbang. Mahasiswa-mahasiswa dengan beragam warna almamater turun dari puluhan bis. Himpunan mahasiswa berpeci hijau hitam ikut meramaikan suasana. Penggiat HAM bersuara lantang di TV mengecam aksi aparat yang represif. Pak haji masih menggoyang kopiah.

***********

Jam pulang kerja disusul matahari yang lelah. Massa mahasiswa mundur dan pulang ke universitasnya karena besok harus kuliah pagi. Laskar berani mati mundur sementara dan mengancam akan datang dengan massa yang lebih besar. Brimob mundur dan merapikan senjata-senjata dan tameng tamengnya. Banyak yang terluka. Jalan mulai lancar, namun ditaburi bambu-sampah-batu-dan beberapa jenis senjata tajam buatan sendiri. Senja tenggelam dibarengi asap kenalpot mobil-mobil aparat di kejauhan. Satpam menatap pak haji aneh sembari menggembok gerbang. Pak haji lunglai, dan rebah. Di dua sudut matanya ada air yang menggumpal. Air mata.

Seorang perempuan muda membelah jalanan malam dengan ojek online hijau dan berhenti tepat di trotoar depan pak haji rebah. Perempuan itu dari pinggiran kumuh kota. Ia berjongkok dan mengangkat bagian atas pak haji yang masih menangis dengan mulut rapat.

“Mbah, sudah toh. Yang ikhlas. Semua keluarga juga sudah ikhlas mbah dan almarhum mbah putri tidak jadi berangkat haji. Kita sudah sepakat memaafkan si penipu. Uang segitu kan ndak seberapa toh. Ikhlaskan saja biar jadi pahala sedekah. Lagipula itu sudah 15 tahun yang lalu mbah. Jaksa yang mengurus kasus mbah juga sudah pensiun..”

Mulut rapat itu membuka perlahan, ditengah isak.

Bukan uangnya nduk, insya Allah mbah uwis ikhlas. Bukan hajinya, itu rumahNYA, dia yang punya hak ngundang siapa yg dia mau kerumahNYA. Mbah cuma takut nduk..”

“Takut apa mbah?”

“Apa yang harus mbah jawab saat nanti DIA bertanya pada mbah, kenapa mbah membiarkan ketidakadilan sedekat ini dengan mbah sementara mbah masih diberi kekuatan dan usia untuk mengubahnya?”

Nduk, ikhlas dan keadilan mesti beriring. Maaf dan adil tidak saling meniadakan. Ketakutan menegakkan keadilan kadang berlindung dibalik kemuliaan ikhlas. Kegentaran mengucap kebenaran seringkali bersembunyi di balik sucinya maaf.”

 

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.528 pelanggan lain

Follow

Follow Di Sudut Pandang Fajar on WordPress.com
Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: