Cerpen: Kisah perasaan yang pecah menjadi tiga

51080e5a92114_51080e5a92cf1
Pecah
Pecah

Sumber Gambar : (pecah)

Aku mencintaimu. Mungkin seperti ibumu mencintaiku dahulu. Dan sepertinya, caramu memperlakukanku menyingkap perasaan begitu cintanya kau padaku. Wah, seperti novel roman yang rumit saja, karena tuhan manapun tak akan setuju bila kita menyatu. Tenang saja. Aku tak akan menjadikan manusia sebagai tolak ukur, sebab kadang akal manusia bisa terpeleset, dan sebagaimana hukum alam, semakin tinggi akal memanjat, semakin keras jatuhnya. Aku tak mau menyandarkan sesuatu sepenting cinta pada standar kebebasan atau standar moral manusia, yang keduanya memiliki nilai elastisitas sejalan dengan ambisi dan hasrat pribadinya.

Aku suka caramu memanjakan tubuh abadiku dengan segenap hati dan kehati-hatian. Gerakan tanganmu seperti eskrim yang dipadu tiga rasa berbeda, lembut, lugas, dan cekatan saat kau mendatangiku, memungut serpihan debu di kepalaku. Aku bahkan membiarkan kepalaku berdebu dan memanggil mereka dengan teriakan bisu untuk menyelimuti kepalaku. Maafkan aku yang memanfaatkan kerepotanmu sebagai sarana pelepas rindu. Jarum detik jam dinding di jendela ruang tamu menjadi sangat kurang ajar cepatnya saat kau bercerita hal-hal remeh yang membuatku tertawa. Mungkin kau tak mendengarnya, tapi, sumpah demi meteor yang memunahkan dinosaurus, aku terpingkal!

“Satu ceritamu yang tidak membuatku tertawa. Sebaliknya, ceritamu membuatku pecah. Aku bisa menahan retak yang menjalar ketika kuikuti kedua ujung bibirmu melengkung sumringah sembari menggebu-gebu kau ceritakan perempuan berambut sebahu, guru baru di Taman kanak-kanak yang kau pimpin.”

Mungkin kau berkata mencintainya karena dia anak gadis salah satu CEO perusahaan telepon genggam lipat terkenal yang karena passion dan kecintaannya pada masa depan anak anak, lebih memilih menjadi guru TK. Tapi selalu ada alasan lain di sudut mata laki laki. Dia cantik. Ya, dia pasti cantik. aku bisa menebak dengan jelas. Kurasa itu pecahan pertama yang kau buat. Dan seperti tawaku sebelum-sebelumnya, kau mungkin tak menyadarinya. Tapi, sumpah demi kapal Nuh yang menyelamatkan manusia dari banjir, aku pecah!

Dan di minggu ketiga september ini, kau menurunkanku seperti biasa. Membelai dan mengusiri debu yang sengaja semakin kuperbanyak di kepalaku. Gigi-gigimu tampak luar biasa saat kau memberitahuku dengan setengah teriak, bahwa esok kau akan membuka pintu pagar rumahnya, membelikan martabak manis cokelat keju untuk bapaknya, dan mengutarakan niatmu pada bapaknya. Kau bilang kau akan mengatakan pada bapaknya bahwa ikatan yang kau buat dengan perempuan berambut sebahu itu lebih kuat dari rantai kapal titanic yang tenggelam secara tragis. Ah, kau selalu jago membuat metafora.

Senyum balasanku sayu dan terpaksa ketika kau tutup pintu kaca di depanku dan berbisik “doakan aku ya” sebelum kau melangkah keluar rumah, menjemput perempuan berambut sebahu itu. Makan spaghetti kesukaanmu, dengan cincin yang telah kau masukkan kedalamnya sebelumnya. Drama lamaran basi milik manusia. Yang masih belum bisa kau sadari, aku kembali pecah. Ini pecahan kedua. Kali ini aku tak perlu bersumpah. Matamu terlalu indah untuk kulepas dengan hati dongkol terbakar cemburu.

Sudah dua bulan sejak kalian bertukar cincin dan mantra sakral. Kita tidak berdua lagi dirumah, sekarang. Ah bahkan kini kau sangat jarang membelai kepalaku. Perempuan berambut sebahu itu kini yang kau tugaskan membersihkan debuku. Aku malas. Aku selalu mendengus. Tangannya seperti eskrim dengan rasa kari ayam bercampur jahe. Entahlah aku benci. Dengan perempuan berambut sebahu ini. Bahkan aku mungkin tak bisa memanggilnya seperti itu lagi karena kini rambutnya sudah menggelayut mendekati pinggang rampingnya. Tebakanmu benar. Dia cantik sekali, dan kupikir pikir, senyumannya mirip ibumu. Tak heran kau mencintainya.

Dan kupikir-pikir lagi, mungkin selama ini kau tak mencintaiku. Kau sebenarnya mencintai ibumu lewatku. Kau seperti merawat ibumu ketika merawatku. Ya. Itu masuk akal. Pantas terasa begitu tulus. Dan pantas pula kau tak takut memecahkanku saat menceritakan soal perempuan berambut sebahu ini dulu. Kau mencintai ibumu lewatku. Kau hanya memenuhi pesannya sebelum ia berangkat dengan pesawat boeing tua maskapai murahan tukang delay yang akhirnya hancur menabrak gunung kapur itu, agar aku dijaga dirawat, dan dicintai dengan baik.

Aku masih pecah. Aku masih benci perempuan berambut sepinggang yang dulu sebahu ini. Aku mencintaimu.

****

Kau menampar, menunjuk-nunjuk  telepon genggam perempuan berambut sepinggang yang kini jadi istrimu, dan berteriak-teriak padanya tentang mantan pacar, anak haram, dan pertemuan rahasia penuntas janji yang terbengkalai. Matamu merah. Perempuan berambut sebahu itu kontan menangis dan merengek terbata bata mencoba menjelaskan sesuatu. Kau kalap dan menamparnya sekali lagi. Ia terjatuh saat memangku aku di sikunya, dan tepat saat ia mendarat, ia melemparkanku kearahmu. Kau menunduk dan membiarkanku menabrak dinding. Hancur. Pecah menjadi tiga bagian. Pecah ketiga. Kali ini secara denotatif. Pecahku kali ini kau sadari, bukan hanya itu, sepertinya membuatmu semakin kalap. Aku bisa menebaknya dari raunganmu. Raungan anak serigala putih yang marah di sebelah bangkai ibunya. Raungan kehilangan.

Yang kutahu sekelebat kau genggam pecahan terakhirku dari lantai dan melompat. Dua detik kemudian aku sadar pecahan terakhirku ada dalam perutnya, menembus lambungnya. Kau membuat dia bersimbah darah denganku. Lenguhan penuh rasa sakit perempuan berambut sepinggang itu perlahan meredup seiring terbangnya nyawanya. Hey, kau masih membiarkanku di lambungnya. Aku penuh darah. Tunggu. Tanganmu juga. Dengusmu kencang tak beraturan saat melihat wajah perempuan berambut sepinggang itu beku dengan mata dan mulut terbelalak. Sejurus kemudian, dengusmu pelan dan matamu digelayuti eskrim tiga rasa, ketakutan, kesedihan, dan penyesalan.

Kau berjongkok menangisinya. Jeritan yang terpotong ujungnya karena kesedihan yang amat sangat. Aku kacau. Perasaanku pecah menjadi tiga bersama tubuhku. Pecahan pertamaku tersenyum karena akhirnya kau membunuhnya sebab rasa cintamu padaku -atau pada ibumu-, setelah perempuan berambut sepinggang itu melemparku hingga pecah. Pecahan keduaku menangisimu karena kau akhirnya menjadi penghilang nyawa demi cinta kita yang tak mungkin bisa bersatu. Juga menangisi kenyataan bahwa ternyata kau amat mencintai perempuan berambut sepinggang itu, sebab aku percaya pepatah lama, benci yang teramat sangat seringkali muncul akibat cinta yang amat sangat. Kau membunuhnya karena kau mencintainya.

Pecahan ketigaku bimbang. Sebab aku mulai menyukai perempuan berambut sebahu itu, dan merasa kau dan dia akan bahagia. Oh ya, sebelum kau melabraknya tadi, ia sedang membersihkanku sebisa yang mungkin dia lakukan menirumu. Ia mengajakku bicara.

“Piring keramik putih yang cantik, aku tahu mas sangat mencintaimu. Ia selalu bilang begitu padaku. Ia bilang kau adalah satu satunya peninggalan ibu yang sangat dia sayang. Aku belajar mencintai apa yang suamiku cintai. Maafkan tanganku belum sebaik tangan suamiku. Dan menurutmu, apa dia mau menemaniku menemui Andre nanti malam ya? Membantuku menjelaskan pada Andre bahwa aku bahagia, dan buah perbuatan haram kami sudah tidak ada sejak kecelakaanku tahun lalu. Ah mungkin mas akan luluh saat kukatakan bahwa itulah alasanku mencintai anak-anak dan mengajar di TK nya”

Bogor, 17 september 2016. Di Lab Biosistematika dan Ekologi Hewan IPB. Bersama lagu Heartache dari One OK Rock.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.528 pelanggan lain

Follow

Follow Di Sudut Pandang Fajar on WordPress.com
Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: