Cerpen : Andai aku mampu memutar mataku ke belakang.

halte hujan

Laki-laki berjas hujan ponco murahan itu seperti tidak kehabisan suara berteriak memanggil-manggil orang lewat. Meski mata terpercik hujan.

Siapa saja, sembari tangannya membentuk pose mempersilakan ke arah pintu angkutan hijau- yang maju mundur memberi harapan- di depan halte tempatku duduk. Si lelaki berponco hijau dengan mata basah seperti beradu teriak dengan hujan yang turun tanpa ampun. Yang mendadak saja turun lima belas menit lalu. Sebenarnya diluar perhitunganku. Karena biasanya jam segini aku tengah menenggak sepotong senja berbentuk cairan jingga sambil melihat bapak-bapak tua menyeruput kopi kemasan limaratusan di pedagang yang ngemper di lantai halte. Bisa jadi di halte ini manusia yang benar benar menunggu bis cuma aku sendiri.

Seperti biasa, di emperan toko buku yang sudah lama tutup karena mungkin orang-orang sudah mencintai buku elektronik itu sedang ada lelaki separuh baya memarahi anaknya yang berkata bercita-cita mengencingi seluruh ibukota dan istana presiden. Suara cempreng para pejuang anti kemapanan di lapak bakso gerobakan bawah jembatan penyeberangan -yang disulap jadi arena tarung para penjual casing telepon genggam, power bank, mi lidi dan barang aneh lainnya- terdengar tidak sumbang lagi saat mereka mengharapkan receh dari pelanggan yang sedang makan. Gemeretak gigil bocah-bocah yang menawarkan jasa payung pada orang lewat tanpa memperdulikan kesehatannya sendiri pun ikut meramaikan halte. Dan Jika beruntung, kau bisa saja menyaksikan aksi laga kejar mengejar dan teriakan copet disekitar sini. Tapi tidak sekarang, mungkin karena hujan.

halte hujan mata

(sumber gambar)

Sudah lama sekali, tepatnya saat ibu dan ayah pisah ranjang dan saling melempar bentakan ke wajah-wajah mereka, aku mendapatkan satu kemampuan khusus. Bisa jadi itu fator epigenetik, seperti yang dosen genetikaku katakan dua minggu lalu. Aku bisa tembus ke dalam mata orang-orang dan melihat dunia di dalamnya. Saat mendengar cerita-ceritaku, almarhumah nenekku saat itu bilang, dunia di mata itu proyeksi jiwa. Waktu itu aku tanya pada nenek apa itu proyeksi dan apa itu jiwa. Nenek hanya tersenyum. Yang kutahu, saat ibu dan ayah merapal mantra cacian pada lawan bicaranya itu, dunia di mata mereka berubah. Di mata ayah aku melihat sebuah perkotaan penuh gedung pencakar langit dan orang-orang bungkuk dengan alat ajaib di tangannya, tengah dihirup dan menghirup api. Terbakar kobaran api tinggi besar yang pucuknya bersalaman dengan langit yang kelabu. Lain lagi di mata ibu. Seratus burung dara yang terbang bebas mengelilingi padang rumput dan danau tiba-tiba kehilangan bulunya. Jatuh terbakar menciptakan riak hebat pada danau yang menguap perlahan di tengah padang. Hal yang sama pada mereka adalah api yang membakar. Tapi aku selalu suka dekat nenek. Dunia matanya manis. Banyak rumah-rumah cokelat dan tukang pos berbentuk roti jahe lalu-lalang bersepeda di jalan-jalan berwarna belang permen. Almarhumah nenekku memang selalu manis dan bijak.

Sejak saat itu pula aku membenci cermin. Karena cerminlah satu-satunya harapanku untuk melihat dunia di mataku sendiri. Tapi bahkan cermin besar di ruang keluarga, yang dibeli ibuku saat plesiran bersama teman-teman istri anggota legislatif lainnya ke perancis, tidak bisa membuatku melihat dunia itu. Aku hanya melihat sepasang mata coklat yang posisinya tidak simetris di atas wajah yang bermulut terbuka dan berliur. Bayangkan. Cermin sebesar dan semahal itu menghancurkan harapanku! Aku mungkin takkan sebenci ini jika mampu memutar mataku ke belakang.

Di halte ini pun, sambil menggoyang-goyangkan kaki yang menggantung, aku melihat dunia-dunia yang berbeda di mata orang orang. Terkadang aku melihat laut lepas dengan burung-burung camar diatasnya. Terkadang sungai bening yang mengalir deras. Terkadang sebuah rumah yang menyendiri di atas tebing, tepat beberapa meter di sebelah air terjun. Oh ya. Di mata anak-anak emperan toko buku yang bercita-cita mengencingi ibukota dan istana presiden tadi, aku melihat angkasa. Luas dan bebas. Ah iya, siapa manusia paling merdeka selain anak jalanan. Di mata lelaki berponco hijau yang belum juga kehabisan suara, aku melihat isi rumah hangat yang diiringi tawa dua orang gadis kecil gembira diberi ibunya sarapan panekuk madu. Tapi, aku belum pernah melihat dunia yang terbakar api sehebat milik mata ibu dan ayah.

“Andai hujan punya mata, apa yang akan aku lihat?” tanyaku pada diri sendiri.

Setitik kendaraan biru mendekat dari kejauhan di sebelah kanan halte. lama kelamaan menjelma sebuah bis berukuran sedang berkapasitas dua puluh orang. Kata bapak-bapak kernetnya, mereka satu-satunya angkutan yang melaju di jurusan itu. Sepertinya memang begitu. Aku pernah satu kali salah naik. Tapi untuk saat ini, ini bis yang aku tunggu.

Baiklah. Saatnya berangkat. Ini bis biru ketiga yang kunaiki sejak awal senja tadi. Semoga saja kali ini aku tidak harus turun di halte berikutnya dan kembali lagi ke halte ini untuk menunggu bis biru berikutnya. Semoga saja dia ada di dalam. Perempuan yang ketika aku melihat matanya saat salah naik dahulu, aku melihat duniaku. Mata kecil lentiknya merupakan satu satunya cermin besar yang membuatku bisa melihat dunia yang ada di mataku. Mata yang membuatku bersyukur tidak bisa memutar mataku ke belakang. Semoga saja. Dan kuteguk sisa senja jingga itu dalam dalam hingga habis saat kaki kananku menyentuh lantai bis.

 

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.528 pelanggan lain

Follow

Follow Di Sudut Pandang Fajar on WordPress.com
Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: