Kekuatan super itu bernama “kepedulian”

pahlawan

pahlawan

Belakangan ini aku sedang candu pada film-film super heroes nya DC Comic. Ironisnya, justru canduku bermula dari menonton film Suicide Squad, film dari komik yang sama, yang malah menceritakan segerombolan penjahat super melakukan aksi-yang dianggap-baik. Oh, cerita pahlawan super selalu bisa membuatku ketagihan separuh napas.

Di dunia yang telah busuk sampai ke akar-akarnya, seperti dunia ini, orang-orang merindukan pahlawan. Celakanya, pahlawan super hanya hidup di jagat fiksi. Beberapa mungkin di fiksi ilmiah. Tapi tetap saja fiksi. Imajiner. Lantas, apakah tidak ada pahlawan yang hidup ditengah masyarakat yang kelu hidungnya dengan bau kekacauan seperti ini? Aku bisa katakan, ada. Di dunia yang telah busuk sampai ke akar-akarnya, seperti dunia ini, seorang pahlawan dapat terlahir karena melakukan hal-hal kecil dan sederhana. Hal-hal kecil yang butuh kekuatan maha dahsyat bernama : “Kepedulian”.

Dan, percaya atau tidak, aku mengenal beberapa diantaranya. Ya, para pahlawan itu.

 Sebelum itu, aku akan menceritakan sesuatu. Seorang teman kerja pernah bercerita tentang seorang ibu yang dibentak oleh siswa sekolah dasar di dalam angkutan umum, pasalnya, sang ibu menegur mereka karena merokok di dalam angkutan. Dengan kata kata yang baik. Spontan perempuan tersebut kaget. Penumpang yang lain? diam. sebagian malah asyik mengendalikan jarinya yang menari diatas layar smartphone nya. Ah aku yakin, cerita ini ada disekitar kita. Anak sekolah merokok. Pacaran mesra ditempat umum. Dan yang paling dahsyat adalah wabah “buang sampah sembarangan” yang secara kronis menjangkiti anak ingusan, ibu-ibu pinggir kali, mahasiswa perguruan tinggi ternama, sarjana-doktor, atau mbak-mbak cantik yang melempar botol minuman keluar jendela mobil sport mewahnya. Ah. Jadi, apakah kepedulian sudah hilang dari semesta?

Baik, akan kuperkenalkan kalian dengan pahlawan pahlawan itu. Sebagian.

Seorang teman baik pernah mengaku mengembalikan satu botol minuman kosong ke dalam mobil pribadi, tempat ia berasal. Meski harus beradu mulut dengan, kau tahu, mbak-mbak cantik yang kuceritakan tadi. Aku kenal seorang doktor lulusan universitas terpandang yang mengabdikan dirinya menjadi pengajar matematika anak anak cerdas di kelas unggulan, dalam kesederhanaan. Dan, hey. Pernahkah kalian bayangkan apa yang kalian rasakan saat melewati perlintasan kereta api tanpa palang, dengan kendaraan kalian, apabila tidak ada bapak-bapak berkulit legam matahari dan lehernya bengkak akibat terlalu sering meniup peluit dan mengatur jalan? Sederhana bukan?

Tunggu, tunggu. Itu belum seberapa.

Beberapa hari yang lalu aku mendapatkan job sebagai tukan foto amatiran, dari segerombolan mahasiswa yang menyebut diri mereka dengan gerakan GENERASI CERDAS IKLIM.

generasi-cerdas-iklim(Generasi Cerdas Iklim)

Gerombolan mahasiswa IPB ini berusaha keras memberikan edukasi pada anak-anak, khususnya sekolah dasar, tentang perubahan iklim, bagaimana cara dan pentingnya menjaga lingkungan agar iklim tetap ramah bagi kehidupan manusia. Lewat metode pengajaran yang apik dan menarik, permainan-permainan seru, dan film-film kartun yang lucu. Tentu saja dengan tidak mengesampingkan pesan yang mereka bawa. Aku di sana saat itu. Dan kalian tahu, rasa sayang penuh kepedulian terpancar dari sorot mata masing-masing mereka saat berinteraksi dengan anak-anak hebat yang super aktif. Wah. Sungguh pahlawan yang memancarkan kehangatan.

Kemudian, adalah Saleha Juliandi. Seorang supermom merangkap aktivis pendidikan dan kebudayaan di jepang, penulis buku-buku pendidikan anak serta motivasi hidup yang penuh inspirasi, penerima berbagai penghargaan, enterpreneur, motivator (profil disari dari laman pribadi beliau http://salehajuliandi.com/saleha-juliandi/), serta istri dari dosen pembimbingku sendiri. Hehe. Beliau sedang mengupayakan perbaikan mental masyarakat terkait lazimnya anak-anak dibawah umum berkendara. Seperti dilansir dari berita di bawah ini.

beritadetik.com

Tujuan beliau salah satunya adalah menurunkan angka kecelakaan yang melibatkan anak-anak dibawah umur akibat kelalaian dan ketidak pedulian orangtua. Usaha tersebut beliau tumpahkan dalam satu langkah nyata, yakni membuat petisi yang berisi ajakan memberi sangsi pada orangtua yang mengizinkan anaknya yang masih dibawah umur untuk mengendarai motor/mobil. Dan sampai tulisan ini ku buat (01:18, 12 september 2016), petisi beliau telah ditandatangani oleh 8607 orang! Bukankah kepedulian akan melahirkan kepedulian lain? Oh, kalian juga bisa berpartisipasi dalam petisi ini dengan menandatangani petisinya di alamat ini. (Petisi)

Aku tahu. Mungkin kalian mengenal lebih banyak pahlawan-pahlawan berkekuatan super seperti mereka  disekitar kalian. Atau bisa jadi, kalialah pahlawannya. Ya. Untuk apa menunggu orang lain saat kita sendiri mampu? Dan menurutku, kekuatan super bernama “kepedulian” itu tidak akan kalian dapat lewat gigitan laba-laba hasil eksperimen biologis, atau tersambar petir luapan energi dari reaktor yang meledak, atau kalian ciptakan dengan teknologi mutakhir ber budget tinggi. Tidak. Kekuatan itu muncul dari dalam. Diri sendiri. Yang dilatih, dipupuk, oleh kontinuitas dan konsistensi. Bahasa kerennya, istiqomah.

Jadi, Don’t wait for a hero. Be one of them!

“A hero can be anyone, even a man doing something as simple and reassuring as putting a coat on a young boy’s shoulders to let him know that the world hadn’t ended”

–Bruce Wayne, The Batman.

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.528 pelanggan lain

Follow

Follow Di Sudut Pandang Fajar on WordPress.com
Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: