Kereta kita butuh persiapan.

p60617-204515.jpg

image

Aku seorang ekstrovert, menurutku. Aku senang bicara. Apasaja. Duapuluh empat jam berstandar deviasi seringkali habis akibat bincang bincang kita yang kebanyakan tidak penting. Satu atau beberapa kali aku bahkan merasa membuatmu kesal tentang itu. Atau mungkin saja tidak, maafkan interpretasiku. Oh ya. Kali ini aku lebih banyak berbicara sendiri. Yang pertama karena bibirku sakit sekali (terkutuk kau, sariawan), yang kedua karena aku sedang berada di kereta menuju suatu kota diluar kota hujan.

Diluar tadi dingin sekali. Bulan hanya secercah. Mataku terpercik tempias gerimis saat kulihat jarum jam menunjukkan seperempat lingkaran. Tapi bahkan di waktu waktu seperti ini kereta kita tidak pernah kosong. Reramai berjajar di bangku kiri dan kanan. Ataupun berdiri berpegangan. Tolong jangan minta aku tanyai satu satu tujuan mereka, karena, bibirku sakit sekali. Yang jelas, tujuan mereka bisa saja berbeda beda.

Kereta ini kencang sekali, kau tahu. Derunya memenuhi telinga. Belum lagi ternyata pendingin yang membuat suasana didalam kereta lebih dingin daripada di luar. Dan fakta bahwa aku sedang sendiri di pojok bangku gerbong kedua, membuatnya semakin terasa dingin. Tapi hey, lihat. Semuanya beraktivitas. Mereka berbincang, bertelepon, mendengarkan musik, membaca, asyik dengan telepon pintarnya, atau tidur dengan leher bertelekan ke kanan, kiri, bawah, atas. Bapak disebelahku bahkan lupa menutup mulutnya. Aku? Aku berbicara sendiri, seperti yg sedari tadi kukatakan. Bibirku sakit sekali.

Di atas pintu otomatis di depanku, aku memeriksa peta rute. Musik yang daritadi kudengar mengalahkan suara pemberitahuan. Entah distasiun mana aku sekarang. Ah entahlah. Aku malah menyadari satu hal.

Kita hidup di atas kereta.

Maafkan aku yang tiba tiba bersikap sok filosofis. Aku memang selalu seperti ini.

Sejatinya ya. Kita hidup di atas kereta. Nomaden. Bergerak terus, meluncur dengan cepat seirama detak jantung. Menuju suatu tempat yang kita harapkan satu tempat diujung sana. Stasiun terakhir.

Dengan gambaran yang amat jelas, dunia kita sama dengan kereta. Orang orang sibuk bercengkrama, sibuk dengan aktivitas bisnis dengan koleganya, sibuk mendengarkan musik, sibuk membaca berita, sibuk bermain game, sibuk dengan telepon genggam, tertidur, atau bahkan mungkin saja membangun tenda. Hingga pada satu garis waktu banyak yang lupa fakta bahwa mereka, kamu, dan aku sedang dalam kereta. Ada yang hanyut bercengkrama dengan yang dicintai, ada yanh tenggelam dalam obrolan seru perihal proyek bisnis, ada yang sibuk dengan telepon, ada yang hanyut dalam musik, ada yg terlelap. Hingga akhirnya, ada yang salah turun stasiun, ada yang takut dan enggan turun, ada yang tidak tau mau apa setelah turun, ada yang tersesat, dan kebanyakan, tidak menyiapkan perbekalan apapun ketika pintu otomatis terbuka bersamaan dengan suara yang menyebutkan nama stasiun terakhir. Dan pada saat itu, tidak ada lagi yang bisa dilakukan, tidak ada yang bisa menolong. Tinggal kita, dengan diri kita sendiri. Kereta kembali, tidak lagi beroperasi.

Menyedihkan bukan?
Hey, tunggu. Di ujung gerbong sebelah sekilas kulihat seorang menggendong tas punggung besar, tersenyum, dan terlihat mantap!

Bagaimana dengan kita?

Hey. Keretaku sudah sampai. Hidup kita masih berjalan. Sebaik baik doa, katamu, adalah doa yang dirahasiakan. Maka,
Semoga….semoga…
Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.533 pelanggan lain

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: