Kalau bahagia itu sederhana, maka “sederhana” tak sesederhana itu lagi.

mainan

Banyak orang mengatakan bahwa bahagia itu sederhana. Sesederhana kayu kepada api yang menjadikannya abu. Bukan, itu puisinya pak sapardi. Atau sesederhana minum kopi di pagi hari, pekerjaan lancar, bertemu anak anak sepulang kerja, mendapat nilai bagus, berpapasan dengan seseorang yang membuat dada berdebar, dan hal-hal sederhana lainnya.

Kita tidak sedang membicarakan relativitas kebahagiaan. Sure, saya pun tahu bahwa kebahagiaan itu perdebatan subjektif. Bahkan para filsuf sejak jaman plato sudah berbeda pandangan dalam memberikan definisi bahagia. Ada pula yang membedakan antara kebahagiaan dalam kebudayaan masyarakat barat dan timur. Tapi, ayolah. Saya percaya dibalik semua relativitas itu, ada sebuah pengertian universal, dimana kita dan perasaan kita, mau tidak mau, jujur, pada akhirnya sepakat bahwa “itu” lah arti bahagia.

Rasulullah (semoga keselamatan atasnya), sering merapal doa yang sudah sama sama kita hapal, bahkan kita juluki dengan doa sapu jagat. Bahkan Band WALI pun mentransformasikannya menjadi lagu nan syahdu. Kira-kira, doa tersebut berbunya begini :

“Duhai Rabbku, berikanlah kepadaku kebahagiaan di dunia, kebahagiaan di akhirat, dan hindarkanlah aku dari azab neraka”

And then, let’s check the life of our Prophet. Hidup yang beliau jalani adalah kehidupan yang penuh perjuangan. Penuh boikot, caci maki, fitnah. Tak jarang berujung perang perlawanan. Hidup yang memaksanya tidur beralaskan pelepah kurma, atau menyumpal perut dibalik ikat pinggang dengan bongkahan batu penunda lapar (bukan oke jelly drink), sembari tangannya memacul tanah membuat parit.

Kemudian muncul dua pertanyaan.

Apakah Allah tidak mengabulkan permintaan hidup bahagia Utusan terkasihNYA?

Atau hidup aman, kerja nyaman, keluarga kompak, gaji lancar milik kita adalah bukan hidup bahagia?

Baik-baik, tenang dulu. Stay calm and keep reading. Oke. ternyata rahasia kebahagiaan hidup Rasulullah dalam peliknya hidup adalah tentang kebahagiaan jiwa. It’s nothing but the soul. Jiwa yang tentram karena teguhnya prinsip, tenang karena memegang kebenaran, serta implementasi melilitnya sikap syukur dan sabar dalam satu kesatuan yang kokoh.

That’s it! Sikap syukur dan sabar.

Kunci kebahagiaan adalah sikap syukur dan sabar. Syukur terhadap apa yang diterima, dan bersabar atas apa yang tidak diterima. Simpel. Tapi tunggu dulu. That simple sentence has never had a simple meaning, though.

Bersyukur itu sulit. Kita amat sering lupa (memang tabiat kita begitu). Bukan, kita bukan membicarakan tentang bersyukur sebagai definisi memanfaatkan apa yang kita terima dengan maksimum demi kebaikan. Bukan. Itu jauh lebih sulit. We are talking about little things. Berterimakasih dan mengucap ucapan syukur atas hal hal kecil tapi sebenarnya besar. Berterimakasih telah diberi kehidupan. Berterimakasih atas oksigen, atas cahaya matahari yang tanpanya kita tak bisa bernapas. Berterimakasih atas makanan yang tanpanya kita tak punya energi. Berterimakasih atas pagi, siang, malam, hujan, angin, sampo, sabun, listrik, sepatu, pakaian, orangtua, teman, dan lainnya. Yang kita lupakan karena kita anggap wajar. Pernahkah kita menyisihkan lima menit untuk mengobrol dengan Yang Maha Rahman, sekedar berterimakasih atas hal-hal ini? Ketahuilah dengan memaknai ini, kita akan paham bahwa apa-apa yang kita terima adalah pemberian dan perwujudan kasih sayang NYA. Maka takkan ada lagi kecemasan.

Bersabar jauh lebih sulit. Bagaimana menahan diri dari mengeluh berlebihan atas sesuatu yang gagal kita raih. Bagaimana tidak memberikan perlawanan sia sia pada saat kita mampu melawan. Bagaimana memberi senyum pada angkot yang ngetem didepan saat kita sedang buru buru. Bagaimana tidak mencaci saat nilai jelek walaupun belajar telah setengah mati. Bagaimana tetap optimis dan positif saat bertubi-tubi keburukan datang silih berganti tanpa akhir Come on, admit it. Itu sulit. Tapi ketahuilah, dengan meresapi ini, kita akan mengerti bahwa apa apa yang kita perjuangkan semata-mata membutuhkan persetujuan Yang Maha Mengetahui. Dan di TanganNYA lah semua kebaikan.

Jika sabar dan syukur merupakan kunci kebahagiaan, maka kebahagiaan tak lagi sederhana.

Tetapi hey, are’nt those that make the happines worths to be achieved? Bukankah itu yang membuat bahagia jadi membahagiakan?

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.528 pelanggan lain

Follow

Follow Di Sudut Pandang Fajar on WordPress.com
Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: