Tidak Apa-Apa Jika Kau Ingin Kembali

lost in alun alun

Kamu dan aku sadar, bahwa kenyataan tak lebih dari runutan jalan-jalan yang kita pilih. Ya, apalagi? Bukankah kita hanya seonggok pilihan? Kemarin, hari ini, esok, lusa. Kita berada dan akan berada di suatu tempat yang kita tentukan sendiri. Bisa saja tidak tepat seperti apa yang kita rencanakan, tetapi tak lain sebagai muara dimana jalan-jalan yang kita pilih, bertemu menyimpul.

Pada akhirnya kamu dan aku percaya di suatu titik dimana pilihan-pilihan ini bersisian dengan akhir waktu, kita akan berhenti. Bukan, bukan berhenti melangkah. Lebih tepat berhenti di satu perjalanan dan memulai perjalanan baru, yang kekal.

 

Tapi kita masih menjejak jalan-jalan ini. Yang menyedihkan. Yang meragukan. Yang menyenangkan. Yang membingungkan. Yang penuh kekesalan. Yang membuat frustrasi. Yang kita rindui. Jalan-jalan yang mesti kita tempuh.

Kamu dan aku sadar, jalan yang kita pilih tidak selalu lurus. Tidak selalu mulus. Ada kalanya buntu dan berbatu. Ada kalanya memaksa kita untuk berhenti sejenak. Ada kalanya mengharuskan kita untuk berputar balik. Kembali.

Ini memang membingungkan. Perjalanan kita adalah perjalanan mencari rumah. Tetapi berbalik arah tidak selalu kita harapkan. Kau dan aku selalu mempertimbangkan hal-hal yang sudah kita korbankan, kita usahakan untuk sampai di sini, di jalan yang ternyata buntu ini. Membayangkan kesia-siaannya saja membuatku muak dan menggigil. Aku yakin kau pun merasakan yang sejenis dengan itu. Tapi, hey. Di titik dimana tembok kebuntuan menyela, kau dan aku tahu kita tidak bisa apa-apa. Dan pilihan kita hanya dua. Diam hingga berkarat, atau berputar arah. Kembali.

Maka, sekarang dan seterusnya. Jika jalanmu memaksamu kembali, kembalilah dengan wajah tegak menengadah. Sebab seperti yang selalu kau sampaikan. Bagi manusia yang tak berpunya seperti kita, satu-satunya yang bisa kita genggam hanya rasa bangga menjadi diri sendiri, rasa bangga memilih jalan sendiri.

 

“Hidup ini tidak beku. Kenyataan berubah, semesta mengalir. Akan selalu banyak jalan. Dan salah satunya jalan kembali.” — F.I.S

 

Laboratorium Mikologi IPB, malam kelima Ramadhan 1433 H. Bersama ‘Adventure of A Lifetime’-nya Coldplay.

 

NB: ini adalah pembenaran buatku untuk kembali menggunakan blog disudutpandangfajar.wordpress.com ini sebagai wadah tulisan, dan menggunakan disudutpandangfajar.tumblr.com menjadi wadah hasi-hasil fotografiku. 🙂

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.533 pelanggan lain

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: