Inersia : Sulitnya kehilangan

image

Setiap benda akan tetap dalam keadaan diam atau bergerak lurus beraturan, kecuali jika ia terpaksa mengubah keadaan tersebut oleh gaya-gaya dari lingkungan tempat benda berada.

Kodrati, bukan hanya manusia, setiap benda yang terikat dimensi akan mempertahankan keadaannya. Titik paling setimbang dan poros paling nyamannya. Sampai suatu saat ia diterpa gaya (force) yang mengubah keadaan dan memaksanya berubah, untuk kemudian kembali lagi ke titik setimbang. Seperti seorang bocah lelaki patah hati yang duduk di kursi dekat jendela bis aptb bogor-grogol yang melaju kencang sembari mendengarkan lagu sendu dan mengusap airmatanya satu satu. Saat bis kencang itu mendadak berhenti atau mengerem, tubuhnya yang bersandar nyaman akan dipaksa mengubah posisi dan terlempar kedepan, sampai pada akhirnya perlahan lahan kembali seimbang.

Dalam sudut pandang yang lain, hukum ini berlaku. Bagi seorang manusia, menemukan kondisi nyaman adalah hal paling membahagiakan. Bertemu orang orang yang dicintai, mendapat pekerjaan layak, lingkungan yang menyenangkan, serta hal hal nyaman lainnya membuat manusia tak ingin beranjak kemanapun. Semakin lama bahkan, akan semakin banyak perasaan, keseriusan, dan rasa memiliki yang tertanam pada semua kenyamanan itu. Harapan pun berubah menjadi anggapan, bahwa hidup akan seterusnya berjalan seperti ini, hingga mati. Kenyamanan yang mendalam itu perlahan lahan meninabobokan kewaspadaan dan kesadaran, dan akan semakin dalam, sampai datang sebuah gaya yang bernama kehilangan.

Ketika dipaksa oleh kehilangan, seorang manusia akan terkejut, terlempar ke arah yang berlawan. Semakin nyaman, lemparan akan semakin jauh. Semakin limbung,  semakin membutuhkan proses dan waktu yang lama untuk stabil kembali. Bahkan pada satu keadaan, harus ada pedih dan airmata serta rasa tidak percaya. Dan pada manusia manusia yang terlalu nyaman, perubahan ini seolah olah merenggut seluruh dirinya, hingga ia merasa tak ada lagi gunanya menjalani kehidupan, dan akhirnya pasrah menghilang terlempar jauh dari kehidupan.

Namun itulah inersia. Hukum alam. Yang secara mutlak terjadi pada semesta yang fana ini. Mengikat manusia yang sejatinya memang terikat dimensi kefanaan.
Efek terlempar hanya sementara dan akan berakhir. Meskipun membutuhkan segenap usaha, hari hari hampa, airmata yang mengering, dendam, keterbengkalaian, ketidakikhlasan, serta sakit yang melumpuhkan, ia akan berujung. Berakhir. Dan perlahan lahan, manusia akan kembali menuju titik kesetimbangan. Kuatlah, tegarlah, bersabarlah.

Maka berilah kabar pada orang orang yang sabar, yakni orang orang yang apabila diambil kenyamanannya (tertimpa musibah), ia berkata : sesungguhnya semua ini bukan milikku melainkan milik Tuhanku, dan pasti akan dikembalikan kepada Tuhanku.

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.533 pelanggan lain

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: