Satu Liter Air Mata

1LitreOfTears51

Kita lahir, pada sebuah wadah dan kenyataan yang tak dapat kita pilih sendiri. Nama, fisik, keluarga yang diputuskan menjadi milik kita.

Kita lahir. Melihat semua hal sebagai hal-hal aneh hingga kita mulai belajar. Mempelajari banyak hal. Tentang sakit, kesedihan, senyum, pedih, kebahagiaan, cinta, keinginan, harapan, ikatan, realitas, kemungkinan, rindu. Satu demi satu beriringan dengan helai usia yang bergugur perlahan.

Kita hidup. Di atas jalan, di antara pilihan, di depan konsekuensi. Saling terkait menjadi rangkaian proses, terlukis di kanvas yang kita tak tahu batas jumlah lembarannya.

Kita hidup. Tertawa, menangis, lupa diri, menderita, dewasa, mawas diri, prihatin, semangat. Mengalir hanyut dalam pusaran siklus duniawi. Tak ada jam yang dapat memberitahu kapan waktunya untuk istirahat dan mengakhiri.

Kita bertanya. Tentang siapa dan apa tujuan kita. Tentang kenapa kita ada. Tentang apa yang harus dipilih dan dilakukan. Tentang waktu yang tepat dan kesempatan yang sepurna untuk memutuskan dan menjalani. Tentang manis – getirnya takdir, akankah ia terbaca.

Kita bertanya. Bukankah akan lebih mudah bila sejak lahir diberi surat keterangan tentang semuanya? Tujuan, pilihan, dan takdir?

Kita meneteskan air mata. Tanpa sadar, kita mulai menyadari, bahwa kita adalah manusia dengan semua yang mengikatnya.

 

Bogor, 16 Oktober 2015. 22:20. Ditemani Lagu Sangatsu no kokonoka nya REMIOROMEN, dan tangisan Ikeuchi Aya yang menyadari tubuh cacatnya mulai merepoti orang-orang terdekatnya.

8 thoughts on “Satu Liter Air Mata

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.533 pelanggan lain

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: