Ex-GO (Part I)

IMG_20150716_012901

 

“Teman baik saat SMA akan menjadi teman baik seumur hidup” —Anonim


Begitulah, selayaknya sebuah kalimat bijak, terlebih lagi anonim, kata-kata diatas bisa benar bisa tidak. Yah, namanya juga kata orang. Orangnya siapa juga tak jelas. Entah pada kalian, namun pada kami, sepertinya kalimat itu benar juga. Setidaknya, buatku.

Ceritanya panjang, kalau kalian bertanya. Warna warni, banyak rasa. Begitu kata iklan di Tv. Serius. Semuanya ada. Ketawa, romantis, ngambek, malu-malu, geng-gong, sampai akhirnya akrab dan jadi tak tau malu. Kalian memaksa? Baik, baik. Kuceritakan dari awal. Tapi jangan minta detail, sebab aku pun lupa lupa ingat.

Aku tak percaya kebetulan. Tak percaya. Bahkan daun mangga yang jatuh ke kepala saat lewat pulang dari sekolah pun, takdir. Serupa dengan kisah kami, yang berawal dari persamaan. Kami sama-sama butuh, dan memilih –Tak berniat untuk iklan atau membesarkan nama sebuah bimbel, cuma mention saja– Ganesha Operation (GO) sebagai tempat bimbingan belajar menghadapi UN dan SBMPTN. Ya jelas, saat itu kami kelas 3 SMA. Kalian bisa tebak kelanjutannya: kami bertemu.

Bukan. Bukan seperti yang kalian bayangkan. Kami tak lantas akrab. Meskipun kami sekelas di GO, kami berasal dari sekolah yang berbeda beda. Mayoritasnya sih dari SMAN 10 Medan dan ex SMAN10 medan yang sudah berubah nama menjadi SMAN 11 Medan. Selain itu, kami punya geng yang berbeda nama, latar belakang, tujuan, dan bentuknya. Selain itu ada beberapa dari kami yang tidak tergabung di keduanya.

Geborz -kalau aku tak salah- dan Shinobi R namanya. Aku sendiri, salah satu anggota dari geng yang disebut terakhir. Aku tak tahu pada Geborz, tetapi Shinobi R adalah geng yang berbentuk Band sekolah, mengaku beraliran Rock Jepang, dimana aku diposisikan sebagai punggawa gitar bass. Tidak. Tidak ada yg perlu dibanggakan dari ini.

Entah malu, malu-malu kambing, atau memalukan, interaksi kami pada awalnya sangat canggung. Meskipun geng kami sering main bersama, tetapi hanya terlihat seperti formalitas. Sebab tetap saja masing masing kami hanya mengobrol dengan teman teman se geng. Terimakasih untuk agus, mungkin, yang paling getol dan tanpa beban, menjembatani interaksi kami.

Hasilnya? mulai muncul cerita cerita romantis ala anak SMA, yang lagi-lagi, pemalu. Ada yang terang, ada yang halus. Ada lagu-lagu kenangan penyampai perasaan, ada intrik dan persaingan. Haha, mungkin tak selebay itu. Namun manis seperti jeruk berastagi yang masih agak mengkal. Manis-manis asem kata orang.

Kalian salah kalau berpikir pertemanan kami berakhir bersamaan dengan berakhirnya masa SMA . Meski kebanyakan dari kami merantau, kami masih akrab. Bahkan salah satu geng dibubarkan. Dan kami semua jadi tergabung dalam satu geng yang sama, EX GO. Hampir tiap Ramadhan, kami pasti meluangkan waktu untuk berkumpul, entah itu buka bersama atu halal bil halal. Atau syukuran, dan sebagainya. Sampai ramadhan tahun 2015 ini, alhamdulillah kami masih diberi kesempatan berkumpul, meski tak lengkap. Banyak yang berubah dari kami. Fisik, pengalaman, nasib, pembawaan. Tapi kehangatan saat berkumpul, tidak berubah. Berubah mungkin, tetapi makin bertambah.

Kata satu orang anggota EX GO dalam instagramnya, “Gak ada temen les yang sesering ini kumpul hore nya”.

Ya, ini kami. Team EX GO!

 

 

2 thoughts on “Ex-GO (Part I)

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.528 pelanggan lain

Follow

Follow Di Sudut Pandang Fajar on WordPress.com
Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: