PROYEKSI DUA: Bulan Malam Limabelas Ramadhan

 

Bulan

Kau merasa kacau. Kacau yang kau sendiri tak mampu mendefinisikan. Seperti hilang arah dan keluar jalur. Cemas tanpa sebab. Takut, marah, kesal. Yang lagi lagi tanpa sebab. Kau ingin berada dalam dua situasi yang berbeda pada saat yang sama. Inginkan kesendirian, sekaligus merindukan keramaian. Ingin diam tetapi teriak. Saat orang-orang bertanya padamu, kau menyingkir. Tetapi sebenarnya kau hanya tak mampu mengungkapkan. “kenapa?”, mereka bertanya. Kau terpojok dan bergumam, dan balik mempertanyakan mengapa orang orang itu bertanya kenapa. Ya, karena kau pun tak tahu jawabannya. Kosong.

Kau mulai menyalahkan keadaan. Mencari-cari, bahkan menciptakan akar masalah yang sebenarnya tidak berhubungan. Lebih jauh, kau mulai menyalahkan dirimu sendiri. Yang kau bilang terlalu lemah. Terlalu manja. Terlalu ini, terlalu itu, dan terlalu terlau yang lainnya. Kau memberikan undangan pada depresi dan frustasi untuk bermukim di jasmani dan pikiranmu. Meliputimu dengan pertanyaan pertanyaan yang kau tak tahu jawabannya. Kosong.

Sejurus kemudian kau mulai mencari cari. Di mana airmata? Air mata yang dengan mudah mengalir ketika kau dengarkan bait-bait melodi lagu sedih favoritmu? Air mata yang dengan mudahnya meleleh saat tokoh perempuan kesayanganmu terpuruk ditinggalkan cinta sejatinya dalam serial drama kesukaanmu? Sekuat kau mengejang. Rejan. Berusaha mengeluarkan setetes saja air mata. Tak kunjung. Padahal sejatinya, luka hati itu menganga. Kau ingin menangis. Menangisi hal yang kau tak tahu jawabannya. Kosong.

Apa?

Apa?

Hey. Itu semua tentang dosa-dosamu yang bertumpuk. Yang kecil. Yang besar. Yang kau biarkan mengendap. Berbau dan membusuk. Dosa-dosa yang membentuk lapisan yang menghalangi air matamu merembes. Seperti karat.

Hey. Itu semua tentang kesalahan-kesalahanmu yang bertumpuk. Yang kecil. Yang besar. Yang kau biarkan mengendap. Berbau dan membusuk. Kesalahan-kesalahan yang membentuk lapisan yang menghalangi tangismu mengalir. Seperti karang.

Kau tanya tentang jalan keluar? Pertimbangkan hal ini. Pejamkan matamu, tengadahkan kepalamu. Bernafaslah. Dalam-dalam.

Kau akan menemukan rangkaian cahaya lembut. Benar, karena ini malam limabelas ramadhan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.533 pelanggan lain

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: