PROYEKSI SATU : Separuh Kesadaran

hujankopi-2

 

”Hey”.

Panggilmu basa basi. Sebab kita hanya berjarak dua panjang penggaris 30 sentimeter di dipan ini. Basa basi yang kujawab dengan gumaman sekenanya

“Hmm”

“Tanyakan pada warga kota ini, siapapun. Tentang ini”. Ocehmu memulai pembicaraan.

“Banjir maksudmu?” timpalku.

“Ya. Ironis. Kota ini hanya dijatuhi hujan dua hari. Yang di kota-kota lain tak meresahkan. Yang di kota-kota lain dianggap kebiasaan. Yang di kota-kota lain dianggap kebutuhan. Bukankah sejatinya hujan itu karunia? Mengapa di sini ia dicerca?” tanyamu filosofis.

“Kau tak lihat? Di kota ini ia membawa dampak yang berbeda!” tegasku

“Hmm..dampak ya?”

 

Hening menjeda

 

“Begini kawan” sambungmu.

“Warga kota ini, banyak yang kesadarannya tinggal separuh, sehingga tak mampu menangkap inti pesan yang hendak disampaikan hujan melalui banjir. Kesadaran separuhnya itu pulalah yang membuatnya mencari-cari hal yang sepertinya pantas dikambinghitamkan atas banjir ini. Air yang mengalir dari kota lain, sistem tata kelola kota yang payah, penguasa kota yang tak peduli, hingga menyalahkan hujan yang turun tak henti”. Katamu dengan wajah mulai tajam.

“Aku tahu, kau hendak menyenggol soal sampah, bukan?” sergapku.

“Ya. Karena hanya tersisa separuh, manusia manusia kota ini bahkan tak sampai akalnya menyadari bahwa penyebabnya sedekat itu dengan mereka”.

“Bukankah mereka menebar sampah dengan kesadaran? Atau kau mau bilang bahwa manusia yang membuang sampah itu telah sepenuhnya hilang kesadaran, hilang akal? Tega nian!” debatku.

“Bukan, kawan. Aku tak pernah mengatakan mereka hilang akal, sepenuhnya hilang kesadaran. Mereka hanya kehilangan separuh kesadarannya. Sadar tapi tak sadar. Setengah sadar”.

“Maka, meski mereka tahu menebar sampah di setiap inci tanah kota akan menyebabkan banjir, mereka akan tetap melakukannya, dan dengan setengah kesadaran yang tersisa mereka menyangka bahwa hanya dengan satu sampah yang dia tebar tak mungkin menyebabkan banjir. Bahkan menyalahkan warga kota lain yang menurutnya menebar sampah ‘lebih banyak’”.

“Separuh kesadaran mereka hilang bersama botol plastik yang mereka lemparkan ke saluran air. Bersama puntung rokok yang mereka injak di trotoar. Bersama bungkusan roti yang mereka tinggalkan di bangku halte bis. Cukup sekali, sekali saja mereka melakukan hal itu, separuh kesadarannya akan meninggalkan mereka, sehingga mereka akan melakukan hal itu berulang-ulang”.

“Kini kau lihat sendiri. Hujan turun. Dua hari, meski tak melulu lebat. Meski ada jeda satu-dua menit. Tapi cukup membuat banjir. Banjir yang sebenarnya membawa satu hal penting, membawa…”

“Kesadaran!” Potongku cepat.

“Ya, kawan. Dan kau tahu, banjir tak hanya datang kali ini. Sudah berpuluh puluh tahun lalu ia menegur. Berulang ulang.  Ia selalu membawa separuh kesadaran manusia manusia itu kembali, menemui tuannya yang membuatnya lepas hilang. Dengan keruh genangan, separuh kesadaran itu kembali menemui tuannya, bersama botol plastik, puntung rokok, dan bungkus roti, ia mengambang menyapa tuannya yang dulu melemparnya jauh jauh atau tega meninggalkannya sendirian. Menyentuh-nyentuh kulit kaki yang tergulung celananya” Desahmu.

“Lantas?” Tanyaku penasaran.

“Kau tahu, sebagian manusia kota ini, dengan separuh kesadarannya yang tersisa, mengenali pesan sedih yang dibawa banjir itu, yakni tentang separuh kesadarannya yang telah hilang. Hingga akhirnya kesadarannya menjadi utuh kembali, bersama sampah yang mereka pungut dan tak lagi dilempar atau ditinggal di tempat yang tak semestinya. Tapi perlu kau catat, di kota ini, manusia semacam mereka ini adalah bagian yang amat sedikit” imbuhmu dramatis.

“Dan sebagian lagi, bagi sebagian besar manusia kota ini, separuh kesadaran yang tersisa ternyata terlalu sedikit untuk mampu menyadari bahwa mereka sebenarnya sudah kehilangan separuh kesadaran. Mereka meracau, mengeluh, mengumpat tentang hal-hal yang jauh. Padahal kesalahan itu begitu dekat. Menyeracau tentang penguasa kota yang tidak amanah, mengeluh tentang hujan yang tak kunjung bosan, mengumpat sesama mereka yang mereka anggap membuang sampah lebih banyak”.

“Dan pada akhirnya, mereka tak mengenali separuh kesadaran mereka yang datang bersama banjir. Membiarkan kepingan itu terlantar kembali, menggenang bersama botol plastik yang menyumbat saluran air, terhimpit bersama puntung rokok yang tersangkut di saringan parit, dan menyelimut bersama bungkus roti yang menutup lubang drainase” tutupmu.

“Kau benar kawan” sahutku. “Dan mari, hujan telah reda, jangan sisakan kopimu, masih banyak mayat yang harus kita evakuasi di atas atap”.

 

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.533 pelanggan lain

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: