Halaman Pertama Novel Biologi

halaman pertama

Ahh, akhirnya. Meski pusing, bingung harus mulai darimana, selesai juga satu halaman. Semoga semakin lama semakin lancar. Butuh banyak referensi, karena memang membaca buku tak lagi jadi rutinitas. Bismillah, semoga istiqomah semangatnya!

 1. Lahir Setelah Petir

“Kulat pak! Kulat!”

Tiga hari ini hujan hanya berhenti sesekali. Hanya untuk beberapa menit. Kemarin malam, petir besar menggelegar. Mengejutkan seisi Desa Basidobec yang tengah lelap.

Tok tok tok tok!

“Kulat pak! Kulat menangis!”

Teriakan pria itu semakin keras. Sementara kepalannya terus menggedor pintu sebuah rumah panggung kayu. Semakin keras, bersahutan dengan gemericik hujan dan sesekali diselingi petir yang cukup keras. Di halaman rumah, sekitar tiga belas orang desa, lelaki dan perempuan berdiri kuyup, dengan bahasa wajah yang sama, terkejut dan cemas.

“Kulat pak. Kulat menangis. Kulat menangis Pak! Dihutan”

Empunya rumah tak kunjung keluar. Sementara deru hujan menghantam seolah menambah kecamnya suasana. Daun pohon Dipterokarp bergesek diterpa angin.

Derik pintu akhirnya terdengar. Dengan tergopoh, seorang pria paruh baya dengan brewok kharismatik menghampiri dari dalam rumah, sembari merapikan rambut panjang-berubannya yang acak acakan. Berbalut kain berjaring, tubuh tuanya terlihat masih kekar. Layaknya seorang prajurit.

“Kulat Pak Muscaria. Kulat! Kulat menangis, dihutan!”

“Kulat menangis bukanlah kalimat yang pernah kudengar sampai saat ini. Apa maksudmu Volv?” sahutnya keras.

“Ikut saja pak. Kedalam hutan. Mari! Segera!”

Pria desa yang dipanggil Volv serentak menarik tangan Muscaria, sang kepala desa Basidiobec, menuju hutan di sebelah desa. Hutan Mushr. Berlari.

Deru langkah, gemericik air, dan cipratan lumpur. Empat belas pasang kaki bergegas memasuki hutan Mushr, lagi-lagi dengan bahasa wajah yang sama. Terkejut dan cemas. Hutan ini adalah hutan terbesar di Kingdom kecil ini. Kingdom Fungurian. Kingdom kecil dan miskin, dibandingkan keempat kingdom lain di Bioverse. Hutan dengan luas hampir seperempat lebih dari seluruh kingdom, tempat hidup pohon-pohon tinggi Dipterocarpaceae dan beberapa angiospermae, pohon berdaging buah.

Di seluruh areal hutan Marsh, mekar subur jamur-jamur berbagai jenis. Namun, Tumbuh sebuah jamur purba di pusat hutan kuno ini. Jamur dalam legenda yang telah tumbuh dari 2400 tahun yang lalu. Jamur Ostoyae. Armillaria ostoyae. Jiwa hutan, sebut para penghuni kingdom. Organisme yang tumbuh tiga puluh lima meter menjulang, dengan diameter batang hampir dua meter. Jamur suci, sang jiwa hutan.

Lazimnya penduduk desa Basidobec, akan masuk hutan setelah petir besar terdengar. Salah satu legenda desa, bahwa jamur pelawan, jamur khas, endemik desa, akan tumbuh mekar setelah petir. Kulat, sebutan para penduduk untuk jamur ini, adalah jamur merah berharga tinggi yang jadi mata pencaharian penduduk desa. Tetapi sore ini, tiga belas penduduk desa dipimpin Volv, menemukan kulat yang lain. Kulat yang menangis, diantara puing puing kulat mati, di kaki jamur suci.

Tangisannya menderu bersama hujan yang menghantam. Menghampiri telinga empat belas orang yang mengelilinginya. Bayi. Bayi yang sama seperti mereka, penduduk desa. Tetapi terlahir dari puing-puing kulat mati. Abiogenesis.

Sepotong kalimat di kaki jamur suci menarik perhatian Muscaria. Kalimat yang mestinya tidak pernah ada disana. Kalimat asing yang membuatnya terpasung bingung.

 

“Kita adalah kemit hantar, mandatoris Sang Kuasa. Berjalan memikul tugas di puncak ubun. Kuat dan lemah pada saat yang sama. Kuasa dan patuh dalam satu waktu. Tidak tunduk pada semesta, tidak pula membuatnya tunduk. Di tangan kita keharmonian. Keteraturan universal. Tegarlah! ———-Marsh Khalfia”

2 thoughts on “Halaman Pertama Novel Biologi

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.528 pelanggan lain

Follow

Follow Di Sudut Pandang Fajar on WordPress.com
Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: