A Thought : Jangan Melupakan Matahari

Thought: Jangan Melupakan Matahari

IMG_8121

Suatu ketika, hidup terasa begitu membosankan. Penuh kesalahan dan kebuntuan. Suatu ketika, hidup terasa begitu penat. Menyisakan gemeretak tulang dan sendi yang kelelahan. Suatu ketika, hidup terasa begitu membingungkan. Seperti berdiri tepat di persimpangan tanpa tanda dan penunjuk arah. Suatu ketika hidup terasa begitu kaku dan palsu. Berkerumun wajah wajah bebal kosong tanpa ekspresi. Suatu ketika.

Hingga suatu ketika, hanya tertinggal perasaan tanpa nama. Hingga suatu ketika, bahkan kita tidak bisa memutuskan apakah kita ini hidup, atau mayat hidup.

Namun, pada setiap “ketika” kita sering tak menyadari bahwa kita lupa.

Bahwa lupa adalah kesalahan utama yang mengakari kesalahan kesalahan lainnya. Bahwa akumulasi kesalahan-kesalahan itulah yang kemudian menumbuh-mekarkan kebosanan, kepenatan, kebingungan, kekakuan, dan kepalsuan.

Dan seburuk buruk lupa, adalah melupakan bahwa tiap kita adalah matahari dalam tata surya kita sendiri.

Diluar konteks keilahian, tak ada yang bisa membuat matahari tak terbit kecuali kenyataan bahwa ia tak ingin terbit. Tak ada yang bisa menenggelamkannya kecuali ia yang menginginkan dirinya tenggelam. Maka, tak ada yang bisa membuat matahari terbit bila ia tak hendak terbit. Dan tak ada yang bisa melakukan satu usaha apapun untuk memaksa matahari tak tenggelam, apabila ia tetap ingin tenggelam.

Dan seburuk buruk tenggelam, adalah tenggelam karena termakan lupa. Lupa bahwa kita adalah matahari yang harus terbit.

Seperti seharusnya, matahari mesti tetap tegar memancarkan energi energi cahaya, segelap apapun mendung yang mungkin menghadang. Energi itu yang akan dikonversi menjadi bermacam bunga warna indah indah. Hingga hidup kemudian dipenuhi warna dan tak lagi membosankan. Energi itu yang akan diproses menjadi beragam buah lezat bermacam rasa, atau obat alami untuk berbagai macam penyakit. Hingga hidup kemudian dipenuhi kelezatan serta penawar, dan tak lagi penat melelahkan. Cahaya itu yang kemudian menguapkan kabut di lensa-lensa mata yang kelelahan. Hingga hidup tak lagi buram membingungkan. Cahaya itu yang kemudian menyingkap lapisan karat pada nurani, hingga hidup tak lagi kaku penuh kepalsuan.

Tiap kita adalah matahari dalam sistem tata surya kita sendiri. Tiap kita adalah matahari penuh energi untuk semesta kita sendiri. Semesta yang selalu gelap bila ia tak terbit. Maka bangkit dan bersinarlah, matahari.

Hidupkan hidupmu!

One thought on “A Thought : Jangan Melupakan Matahari”

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.528 pelanggan lain

Follow

Follow Di Sudut Pandang Fajar on WordPress.com
Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: