Luka: Sebuah Keharusan

ankabut 2-3

 

Terkadang kenyataan bisa begitu mengejutkan. Menyakitkan, bahkan memancing depresi dan frustasi. Beratus ratus lembar rencana yang sudah disiapkan bersama kemungkinan kemungkinan yang lain, seperti tercoreng moreng tinta hitam yang tak terhapus. Terlihat seolah harap dan asa pergi entah kemana. Firasat yang selama ini dipegang, tersamar seperti pembohong kelas kakap dengan lidah lihainya.

Terkadang, ingin, tak selalu seirama dengan jalan. Mau, tak selalu sebait dengan kesempatan. Harap, tak selalu sebanding dengan pencapaian. Tak ayal, kenyataan ini seperti membubuhkan garam pada luka sayatan. Pedih.

Terkadang, selalu ada suara yang memaksa membandingkan diri dengan orang lain. Kesuksesan, keberhasilan, pencapaian. Dan seringkali, hal ini membuahkan perasaan yang menambah keputusasaan, perasaan jalan ditempat, perasaan gagal, pasrah, dan, terluka.

Terkadang, kita memang harus mengalami. Terkadang, kita memang dipaksa belajar. Kita bisa jadi diberi rasa sakit, agar kelak tak menyakiti. Kita diberi kegagalan, agar belajar dari kesalahan dan tidak menggagalkan orang lain. Kita diberi tahu sakitnya dibohongi agar tidak membohongi orang lain. Kita diberi rasa lemah, frustasi, agar kita sadar akan kekerdilan diri, dan sadar bahwa kita bukanlah sesiapa.

Bisa saja, satu ketika perasaan cinta kita memag harus pecah berantakan. Agar kita paham bagaimana rasanya khawatir, pedih, rindu, menunggu. Agar kita paham pedihnya tak bersambut. Agar kita paham sulitnya berpikir logis ketika perasaan dihantui pedih yang amat sangat.

Seperti kata seorang teman, bisa saja kita memang harus seperti itu. Harus mengalami agar kita tahu. Harus mengalami agar lebih bijak.

Atau, dari sudut pandang yang lain, bisa jadi kita memang sengaja berikanNYA ujian, untuk melihat, seberapa dalam kita mencintaiNYA. Sebab DIA, Maha Pencemburu.

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.533 pelanggan lain

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: