Tarawih

Medan, 14 Agustus 2013

969134_10201106676921624_1052444278_nBulan bersembunyi. Beberapa hari ini ia memang sudah mulai menguap sepotong demi sepotong. Ia sepertinya tahu akan menjadi sosok paling dicari beberapa hari kedepan, meski hanya beberapa derajat busur. Ah, tapi aku tak peduli. Aku sibuk melancarkan jurus rahasia ku pada nyamuk yang thawaf mengelilingi tubuhku dari rakaat ketiga tadi. Plak, plak, plak. Mencuri-curi, karena tanganku mesti tetap bersedekap. Derik lantai bambu mengiringi tiap gerakanku dan bapakku, ruku dan sujud, berdua.

Entah rakaat keberapa sekarang, jangan tanya. Aku sudah tidak konsentrasi semenjak rakaat keempat tadi. Ironis, karena mestinya di tiga malam terakhir Bulan Penyuci ini lezatnya ibadah semakin terasa. Meskipun untuk bocah seusiaku. Tapi sekali lagi aku tak peduli, terlalu riuh memikirkan sepatu model apa yang dijanjikan bapakku besok siang untuk hari rayaku. Aku tak mau yang banyak dipakai teman-temanku.

Bapakku mungkin tak menyadari lamunanku sembari senyum-senyum simpul dibelakangnya. Ah, bapak memang selalu khusyu’.

Derik jangkrik menjawab kedua salam bapak. Kucium tangan bapak sembari berdiri. Tergesa-gesa meninggalkan bunyi reot balai bambu yang kuinjak sekenanya. Aku rindu fajar pagi, aku rindu sepatu baru. Tak sabar!

******

Aku kabur. Lari. Takut. Seribu kelebat bayanganku tentang bapakku yang marah. Aku benci melihat bapakku kala marah. Lebih tepatnya, aku takut. Takut pada mata merahnya. Di dalam mata merahnya ada dunia, dunia yang terbakar api khawatir terhadap anak-anaknya, tapi terlalu panas untuk kumengerti. Aku kabur, menghindar hingga ke suatu tempat yang aku sendiri tak tahu. Biar abangku saja yang dimarahinya, toh abangku sudah besar.

Yang kutahu, motor kami penyok, dan sepatu baruku habis terlindas mobil. Rusak. Abangku berdarah di kepala dan sikunya. Sementara aku tak merasa badanku sakit. Mungkin karena terlalu sedih dengan rusaknya sepatu baru itu, atau dirayapi takut akan marahnya bapakku. Yang pasti, aku penyebabnya. Aku yang terlalu girang memohon pada abangku untuk menyetir saat pulang. Abangku hanya tak mau aku menangis.

Bapak pasti marah besar. Setidaknya alasan itu yang membuatku lari entah kemana ini. Biarlah, asal aku tak melihat wajah marah bapakku. Biar nanti mereka mencariku.

Aku kabur pak..

******

Derik ini kudengar kembali. Di penghujung malam terakhir terawih ini, aku masih di belakang bapakku. Bulan sudah hilang, bersama terawih sebelas rakaat tahun ini. Besok malam, takbiran. Sudah kulihat tadi sore gerobak berisi beduk dihiasi obor diparkir didepan mesjid, sembari kepulanganku ke rumah karena tak mau bapakku semakin marah. Kepulanganku tak digubris oleh bapakku. Ia mendiamiku. Permintaan maafku direspon dengan ekspresi “aku tak dengar” olehnya. Anehnya, mataku mengeras. Tangisku tanpa airmata!

Sudahlah. Bapakku memang seperti itu. Sekarang, aku masih dibelakang bapakku, di atas gubuk bambu ini, tanpa sajadah. Dimana mesti kusahut “aamiin” Al-Faatihah bapakku, aku tak tahu. Bapakku diam, sesekali diiringi isak. Bapakku menangis. Keras, dan makin keras, seiring semakin meninggi malam. Belum pernah kulihat bapakku seisak ini dalam shalatnya. Aku semakin tak khusyu. Ku ikuti tetesan-tetesan airmatanya yang jatuh di sajadah merah itu. Isaknya makin menjadi saat sujud. Aku perih. Aku menangis!

Salam. Kanan, kiri. Bapakku belum berhenti menangis. Meringis, menengadahkan tanggannya keatas. Melafazkan doa-doa seusai shalatnya yang biasa. Pipinya lengket, matanya sayu. Aku menyadari satu hal. Namaku terselip sesekali diantara desahnya. Namaku terangkai disela-sela isaknya. Bapak menangis semakin keras. Aku disampingnya, menahan tangis.

Kusadari satu hal lain saat kucoba menyeka matanya yang basah. Satu hal tentangku, yang menjawab mengapa aku tak didengarnya. Yang menjawab mengapa ia menangis. Yang menjawab mengapa ia menyebut namaku.

Kupeluk bapakku dari belakang. Seperti tanganku yang menyeka matanya tadi, lengan dan badanku hanya menembus badannya. Bapakku masih terus menangis.

Sepatu baruku rusak. Aku pergi, pak. Nanti Kusampaikan salammu pada Tuhan pak…

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.528 pelanggan lain

Follow

Follow Di Sudut Pandang Fajar on WordPress.com
Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: