Untuk Hujan

UNTUK HUJAN

 Bogor 17 November 2012, 17

window-crying

 

Bismillahirrahmanirrahim.

Salam sejahtera bagimu, hujan, yang menghampiri manusia pukul 5 sore ini.

Hari ini engkau tak datang sendiri, juga mengejutkan. Engkau datang bersama angin kencang dan udara dingin, serta kilatan terang bergema menggelegar. Bagaimana tak terkejut, engkau datang saat sang pusat tata surya masih tersenyum. Tapi tahukah engkau, aku bisa membauimu beberapa detik sebelum engkau menciumi atap-atap rumah kami. Aku melihatmu. Dari jendela. Seperti biasa,menikmati.

Tahukah engkau, kedatanganmu hari ini bagiku tak biasa. Aku rindu. Padamu. Pada suara suara gemericikmu diatas daun basah yang menari mengelus tembok. Pada rembesan nakalmu kecil-kecil, di kulit ari ku yang masuk dari celah sempit jendela, yang memang sedari tadi sengaja kubukakan untukmu. Aku tahu engkau datang setiap hari akhir-akhir ini. Aku pun tahu engkau merajuk, karena datangmu tak pernah lagi kusambut dengan leburan hati yang tenang. Aku tahu engkau marah, karena sudah lama aku tak menyisakan sebagian kecil menit-menitku untuk mendengarkan desis-bisik mesramu dari balik jendela. Aku tahu engkau sedih karena teracuh. Aku tahu, karena aku pun begitu, padaku. Maka aku rindu, hari ini, biarkan aku bercerita padamu. Semua.

Engkau tahu, hari ini hal luar biasa datang meradangiku. Aku berhasil melakukan apa yang sudah tidak bisa kulakukan meski dengan usaha penuh. Aku menangis. Ya, sejadi-jadinya. Aku tahu engkau terkejut, tetapi ini nyata. Aku merintih tanpa sungkan meringis-ringis, bahkan rentetan air mata dari mataku yang tertunduk, kuyup membasahi pakaianku. Tangisan damai, tangisan seorang hina demi pengampunan. Engkau tahu, sampai hari ini, kalbuku terlalu keras untuk mengerti betapa nikmatnya menangis! Mengharu. Candu. Engkau juga tahu beberapa malam yang lalu saat engkau datang, aku bersikeras menguntai rusukku sepotong demi sepotong, sekedar untuk membersihkan karat-karat laknat yang mengerasi kalbuku, meski aku tak sepenuhnya tahu dimana letak kalbu. Engkau menyaksikanku, mengerang! Menggoncang jiwa sendiri, untuk meneteskan satu butir air permohonan ampun, dan engkau tahu, sulit! Aku mulai merintih untuk menangis. Bersedih sebab tak bisa menangis, bahkan dihadapanNYA.

Aku bertaruh kau tak bisa merambah cuaca di alam lubukku bukan? Aku tersenyum. Ya, mungkin saja salahku yang sudah lama tak meleburkan rasa denganmu. Tetapi, bukankan angin kencang yang kau ajak bersamamu sekarang meniup-kibaskan wajahku dibalik jendela? Ah, aku percaya kau bisa menerka garis-garis ronaku. Aku tersenyum, kau lihat? Tebakanmu?

Tepat, aku dipayungi kegembiraan, yang sangat! Bukan hanya karena kau hadir menyapa sore ini dan kita bercengkrama, tetapi aku merasa kembali dekat denganNYA. Kau pasti lebih mengenaliNYA lebih baik dariku. Engkau bahkan diturunkanNYA sebagai rahmat, meski aku tahu kekesalanmu sebab beberapa diantara kami yang mengutuki kedatanganmu. Tenang saja, masih ada manusia-manusia yang mensyukuri kedatanganmu termasuk aku.

Hari ini engkau terlihat rapi, hujan. Sangat solid, berwibawa, sekaligus tenang dan sendu. Aku suka penampilanmu hari ini. Sebab gemericikmu riuh, kau pandai menenangkan. Bukan hanya aku yang berkata begitu, aku kenal satu orang yang begitu mengagumimu, bahkan untuk detail-detail yang kulewatkan! Kau juga pasti mengenalnya, karena ia mungkin salah satu sahabat cengkramamu di kotamu-kota hujan ini. Aku percaya saat ini ia juga sedang berdiskusi syahdu denganmu, disudut yang lain. Mungkin sesekali engkau bisa memediasi, atau kita bisa bercengkrama bertiga, ya, entah kapan. Yang pasti, aku akan menunggumu di jendela ini esok, pukul 5 sore. Pastikan engkau datang dengan cerita baru ya, sebab esok adalah waktumu bercerita.

Salam sejahtera bagimu, hujan.

NB: esok jangan ajak banyak-banyak teman halilintarmu ya, mereka sering mengagetkanku. 🙂

 

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.533 pelanggan lain

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: