Senja

SENJA

Sebuah catatan kecil di tepi kaki langit. Bogor 7 Desember 2012 20:45 WIB

senja mendung

 

Melodi itu terdengar rapuh. Entah aku yang terlalu rapuh menyahutinya. Aku berdiri di depan pagar merah saat ia mengalun. Sendiri. Memaksa. Hingga dua detik kemudian bayangan batas langit terlihat saat tiba-tiba aku menengadah. Gelap. Tebal. Selimut, hingga si hijau itu tak menari karena mengabu-abu. Ini sebab melodi itu, aku menengadah. Sendiri. Gila? Bisa saja. Aku saja tak yakin, apakah beberapa ratus bagian syarafku baik saja sekarang. Ngilu di pundak bahkan sudah mati. Menyisakan geli kebosanan, geli kepenatan.

Ini senja. Setidaknya itu yang sejak tadi diteriakkan penanda waktu di pergelangan kiriku. Tapi gelap. Gelap. Setahuku, senja itu merah! Atau paling tidak, Jingga. Aku tidak tahu ada jingga yang gelap, atau ada merah yang mengabu-abu. Lunturkah senja? Mengapa? Hanyut dalam kepedihan menyaksikan berulang-ulang manusia tanpa syukur seperti aku ? Mungkin saja. Tapi setidaknya butuh lebih dari jutaan manusia tanpa syukur untuk membuat senja menangis luntur, pun itu terhalang oleh satu manusia optimis yang terus menghargai pemberian Penciptanya. Dan yang aku tahu, aku kenal beberapa orang itu! Jadi tak mungkin senja menangis luntur.

Senja tak menangis. Itu teoriku. Aku tahu sebab yang aku dengar ini melodinya. Melodi harmonika yang perlahan bergetar dihembus anginnya. Aku kenal melodi ini, meski acapkali berubah pada waktu-waktu sendu-dengar ku yang berbeda. Maknanya satu, rapuh. Paling tidak, itu interpretasiku. Tetapi mana senja? Mengapa gelap?

Ini awan. Ternyata. Ia yang siang tadi masih kucumbui putihnya diatas biru, sembari duduk. Mengapa ia melegam? Secepat ini? Dan menutupi senjaku yang kurindu? Ah, aku tak mengerti. Tak jauh waktu yang lalu aku terbiasa dengan gelagat awan yang menghitam. Ya, tanda kedatangan sobat sendu ku yang ketunggu hadirnya dibawah jendela berkisi. Hujan. Namun biasanya ia tak datang saat ini. Karena ini senja!

Aku tak lagi berada di depan pagar merah. Berlari kecil ke hamparan yang lebih luas. Tengadah, tergopoh. Aku ingin bertemu senja! Aku ingin bertemu Jingga!

Ada! Ia disana. Aku tahu, ia berbicara padaku dalam diam. Diam mendalam memakna. Senja ternyata mengetuk-ngetuk awan. Salam. Padaku. Ia mengintip dalam wujud lingkaran jingga di celah kosong yang tak tertutup abu-abu mendung. ia disana, bercerita! Meski sedikit dan perlahan menghilang, ia menjertikan eksistensinya.

Ia bercerita. Dalam diam yang dalam memakna. Bahwa ia akan selalu ada dibalik awan, tak peduli seberapa gelap awan itu. Ia akan tetap konsisten memainkan melodinya, meski guntur meninabobokan pendengaran manusia yang terlalu cinta pada fananya dunia. Ia akan selalu gigih mencari celah kosong yang terluput oleh mendung, untuk tersenyum pada yang merindu janji dengannya. Ia kokoh, ia kukuh. Berpantang luntur. Selagi masih ada manusia yang bersyukur.

Lepas. Terbang berhelai membulu. Satu-satu dari pundakku. Tak lagi ngilu. Aku pun sadar ternyata syarafku tak rusak, hanya penat. Dan penat itupun lenyap. Aku belajar dari senja. Belajar untuk tetap bercerita pada lembar putih bergaris yang masih tak kutahu kapan habisnya. Belajar untuk tetap memainkan melodi yang harmoni pada ritmeku sendiri, agar tak menyulapku jadi manusia tuli yang terlalu cinta pada fananya dunia. Belajar untuk gigih, gigih untuk tetap belajar sembari tersenyum. Belajar bersyukur, pada Penciptaku dan Pencipta senja.

Aku bangga. Padanya. Itu senjaku!

 

3 thoughts on “Senja

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.533 pelanggan lain

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: