Sapu Tangan Jingga

SAPU TANGAN JINGGA

sebuah cerita. Bogor 29 September 2012

384073_4029736614362_952526363_n

Monster  bergading kecil merah itu terkapar. Terjatuh dari gedung lima lantai. Tak mati, atau mungkin belum mati. Aspal mulus dibawah tubuhnya mendadak sompal berantakan ditindihnya. Pecahan aspal bertebaran serempak dengan bunyi ‘bruk’ keras. Monster itu bangkit tertatih, mencari visi keberadaan sesuatu, atau seseorang, di atas gedung dari mana ia jatuh tadi.

“RIDER KICK!”

Seruan mengagetkan disusul bunyi desing yang lebih berat dari desingan peluru. Seseorang berkostum belalang berjubah hitam dengan mata merah besar mendadak melompat dari lantai tiga gedung, menyodorkan sebelah kaki berapi, membuat posisi tendangan melayang, kearah si monster.

SYUUUUUU….BUAGH!

Si kostum belalang berjubah hitam mendaratkan kedua kakinya di aspal yang mendadak rusak, setelah telak menendang kepala monster dan sempat bersalto dua kali di udara. Dia berbalik badan membelakangi, mengangkat tangan. Si monster segera terbakar, pecah mengabu bersama ledakan super dahsyat yang menyisakan angin kencang bagi si kostum belalang jubah hitam, mengibar-nakal kan jubahnya.

DHUAAAAR!!

********

“Sampai kapan Jaaaaaaar??!” Seru seorang wanita.

Pintu tak lagi diketuk, melainkan dibuka dan didorong paksa dengan bunyi dentuman khas pintu kayu menabrak tembok. Ada ekspresi marah di atas wajah merah seorang wanita saat menatap seorang remaja yang masih mengenakan seragam putih-abunya, yang sedang berada dalam posisi yang  cukup ajaib di atas lantai. Monitor komputer keluaran tahun 2000-an santai berdiri di atas lantai, masih dengan cuplikan-cuplikan gambar ledakan-api-aksi-rusak-perkelahian-monster. Beberapa keping DVD bajakan bertengger manis diatas kursi belajar.

 

“Udah beli belum?!”

“ Belum lah Bu, belum siap nonton, hehehe..”

“ Sana! Mau masak, udah siang!”

Terdengar suara monitor dimatikan. Kasar. Remaja laki-laki itu bangkit, merapikan sprei tempat tidur miliknya dan adik-adiknya yang  ia sulap menjadi alas selama kegiatan menontonnya. Ibunya sudah dari tadi beranjak kedapur, disusul suara ‘tok-tok’, pisau dan talenan´kayu beradu. Remaja itu berlari keluar, melaksanakan perintah ibunya, dengan berlari tergesa.

Membeli minyak tanah.

********

Ia dengar seorang ibu histeris, menjerit. Ia dengar suara berat laki-laki yang sepertinya sudah berumur, marah-marah, entah pada siapa. Seperti melerai, mengusir. Ia dengar kericuhan.

Ia sendiri seperti baru bangun, dan tak berniat bangun. Sementara kumpulan suara itu semakin jauh, dan ia memutuskan untuk tidur.

********

Boy, ada DVD Kamen Rider baru ndak? Ku baca-baca di internet katanya banyak yang sudah keluar filmnya, sudah lama pula nih aku ndak update. Kau kan rajin beli, bisa lah aku pinjam sebentar”

“ Ah, kau ni. Maniak tak bemodal lah kau. Katanya fans berat, beli bajakan pun kau ndak mau. Parah”

“ Farhan, Farhan. Macam ndak tahu prinsip hidupku aja kau, untuk apa beli selama di dunia ini masih ada yang bisa dipinjam, hehe”

“ Terserahmu lah Jar. Ada dirumahku. Kau main aja nanti pulang sekolah. Lumayan lengkap, yang jadul juga ada kalau ndak salah. Tapi jangan sampai rusak ya”.

“ Gitu lah, itu baru namanya kawan awak, hehe. Okelah, nanti pulang sama-sama kita ya, sekalian aku numpang naik kereta*  barumu. Hehe”

“ Tak bemodal. Jar, Jar. ckckc.”

********

Digenggamnya sapu tangan jingga itu berlari, menuju gerbang sekolahnya, sebuah sekolah menengah atas yang tidak begitu terpandang di kota Medan. Ia tahu, matahari pagi pun belum begitu menyengat karena baru beberapa jam sejak bangunnya. Sekolahnya masih lama mulai, khususnya untuk ia yang selalu datang mepet dengan bunyi bel. Bahkan kepalanya pernah diadu dengan teman sekelasnya oleh guru petugas piket, karena mereka berdua datang terlambat hampir empat puluh lima menit. Teman-temannya pasti berpikir bahwa kedatangannya kali ini adalah hal yang ajaib, luar biasa. Tetapi menurutnya, hal yang luar biasa adalah yang akan ia ceritakan nanti, yang saat ini ia simpan di bawah ekspresinya yang tak karuan.

“Farhan, coba kau dengar, kau lihat berita pagi ini ndak?” Tanyanya berapi-api pada sahabatnya, Farhan, dalam kelas.

“Apa memangnya?” Respon sahabatnya, yang tak sesuai dengan prediksinya.

“Ada polisi ditembak mati penjambret, di  ATM center supermarket depan MAN II!” sahutnya.

“Ah, iya? Yang betul? Terus kenapa?”

“Aku disitu! Terus kau tahu ndak?”

“Apa?”

“Penjahatnya sempat kutendang jatuh, sebelum kena tikam oleh si polisi!”.

“Gila! Bohong kau.”

“Betul! Sapu tangan si polisi jatuh waktu berkelahi sengit dengan si perampok. Dari belakangya aku lari, kutendang punggungnya, tersungkur dia. Lalu si polisi menikamnya sesaat setelah si perampok bangkit berdiri. Aku pun lari. Masuk ke supermarket. Dari dalam kulihat perampok itu masih bisa mengeluarkan pistol, menembak dada si polisi, lalu kabur dengan sepeda motor yang di tunggui oleh kawannya di seberang jalan. Aku keluar lagi, kulihat si polisi terlentang berdarah, sapu tangannya kuambil dan buru-buru kusimpan dalam sakuku. Ketakutan, aku pun pulang, ngebut!” dijabarkannya peristiwa kemarin dalam dua napas, terengah-engah.

“Gila betul kau, untuk apa pula kau ambil sapu tangan si polisi?”

“Aku pun ndak tahu. Aku ndak memikirkan apapun selain kerennya sapu tangan itu. Sapu tangan dengan noda darah si perampok. Sapu tangan INI!”. Ia berseru, ditunjukkannya sapu tangan jingga yang dari pagi digenggamnya. Ada noda merah kering di pucuk sebelah bawahnya, dekat tanda merek.

“Wah, aku ndak tahu mesti ngomong apa, yang pasti menurutku kau gila.”

“Aku cuma mau menolong, seperti kamen rider, Far!” sahutnya tanpa rasa bersalah.

“Nanti siang polisi kerumahku. Mereka mau minta keterangan katanya. Kau mau lihat?”

“Oke, nanti kita pulang sama”.

********

Ia tergila-gila pada sosok heroik dari negeri sakura itu. Ideologinya, semangatnya, jiwa kepahlawanannya, senjatanya, jurusnya, bentuknya, tampilannya, kepribadiannya, ceritanya. Semua ia gilai. Itu pula sebab ia dianggap gila oleh teman-teman sekelasnya. Tidak sadar umur, kata mereka. Namun ia tak peduli. Sosok itu begitu hebat dimatanya, menutupi semua persepsi. Sebuah karakterisasi sifat sempurna seorang pahlawan, yang ia rasa sedang krisis di negrinya. Benar, ia tak menemukan lagi ada sosok pahlawan di negerinya, sebab itulah ia begitu mengidolakan sosok itu, dan meniru mati-matian ideologi kepahlawanannya.

Tahun pertamanya di SMA, ia pernah memukuli siswa kelas dua, kakak kelasnya, saat perkemahan pramuka di bumi perkemahan Sibolangit. Tak sesuai, tak adil dimatanya. Saat itu Farhan, sahabatnya sejak kelas dua SMP, dijitak karena tak mau minum air sungai dari sepatunya sendiri, oleh kakak kelas, si anak kelas dua. Farhan sedang puasa saat itu, yang ia tahu. Tinjunya mendarat telak di wajah kakak kelasnya itu, mendarahi hidungnya. Kakak kelasnya rebah, suasana ricuh. Junior-junior lain membela, merasa bahwa tindakannya benar karena kekerasan dimulai oleh si kakak kelas. Setahu mereka dalam pramuka tak boleh ada kekerasan fisik. Namun akhirnya ia dimarahi ayahnya juga, sebab ayahnya diminta kesekolah atas laporan perkelahiannya dengan kakak kelasnya itu. Daun telinganya merah, dijewer ayahnya, ia dikeluarkan dari pramuka, tapi hatinya bangga.

Pernah satu kali ia mesti mendorong sepedanya yang bocor bannya, dalam perjalanannya dari rumah Farhan. Mendadak dibelakangnya ricuh, sesayup didengarnya sahut-bersahut kata “maling”, “jambret”, dan “rampok”. Ia menoleh, dilihatnya seorang laki laki dua puluh tahunan berambut gondrong, lari kesetanan kearahnya. Dikejar warga yang berkerumun. Responnya mengatakan bahwa, laki-laki itu penjahat. Tangannya refleks mendorong sepeda yang semenjak tadi ia tuntun, kearah laki-laki itu saat akan berlari melewatinya. Tertabrak! Laki-laki itu tersungkur mencium aspal, langsung dikerumuni oleh warga bak hyena lapar. Ia bangga.

Ia juga pernah menendang-telungkupkan seorang perampok mesin ATM, bersenjata. Perampok itu terlalu serius berkelahi dengan seorang polisi hingga tak menyadari seorang remaja SMA berlari dari belakangnya. Kejadian itu yang memberikan pupuk bagi ideologi kepahlawanan yang diadaptasinya, semakin berkembang lebar bak bunga bangkai di musim kembang. Itu karena sapu tangan jingga milik polisi, yang dianggapnya benda pahlawan. Ia jadikan saputangan itu identitasnya saat melakukan tindakan heroik-nekatnya yang berikutnya, dililitkan dileher. Ia merasa lebih dekat dengan idolanya, kamen rider.

Ia semakin gila, gila yang heroik!

********

”Bang, adek berangkat duluan ya, takut terlambat. Masa hari terakhir terlambat lagi gara-gara nungguin abang”.

Ini hari terakhir masa orientasi siswa atau MOS. Adiknya baru masuk di sekolahnya. Sedangkan ia sudah terlalu malas memikirkan hal itu. Yang ia pikirkan adalah bagaimana lulus Ujian nasional beberapa bulan lagi. Wajar, ini tahun terakhirnya.Tapi pikiran itu tak membuatnya datang lebih awal ke sekolah. Ia masih sering terlambat.

“Ya, duluan aja. Abang berangkat sendiri nanti. Jangan mau diajak tawuran!”

Ia mengingatkan adiknya agar tidak mengikuti ritual sekolah mereka, saat hari terakhir MOS.

********

Suasana kacau. Batu bak punya sayap, terbang kesana kemari. Galah-galah panjang berayun tak kenal kawan-lawan. Jalan raya macet. Klakson berbunyi khas disayupi teriakan marah-takut. Itu yang ia lihat.

********

“Far, kau lihat adekku ndak?”

“Tadi lihat. Sidik ajak dia tawuran sama sekolah sebelah. Tapi dia ndak mau. Dia berani bentak Sidik malah. Mantap adek kau tuh. Kau ajarin nonton kamen rider juga jangan-jangan? Haha.”

“Ah kau. Sekarang dia pulang?”

“ Ndak tahu. Mungkin. Hari terakhir MOS kan mereka pulang cepat. Kau cek aja dirumahmu.”

Ia pacu sepeda motornya, susuri jalan pulang menuju rumahnya. Benar saja, adiknya disana! Di tengah kekacauan. Di tengah batu-batu yang melayang. Di tengah galah-galah panjang yang berayun liar. Di tengan kemacetan jalan raya dan bunyi riuh rendah klakson kendaraan. Ia tahu adiknya hanya lewat, tak sengaja masuk ke kekacauan itu. Adiknyalah satu-satunya siswa berseragam yang sama dengan dia, yang tidak mengayun-ayunkan senjata atau apapun yang mirip senjata di tangannya. Entah sengaja atau tidak, ia marah. Marah yang bercampur dengan takut serta khawatir. Dihentikannya motornya didepan jejeran pertokoan elektronik, ia masuk ke kekacauan itu.

Diraihnya tangan adiknya, berlari. Mencoba keluar dari kumpulan anak laki-laki yang berseragam sama namun berekspresi beda dengan mereka berdua. Batu-batu masih berterbangan. Jari-jari rantai motor diputar-putar diatas kepala mereka. Ia di barisan belakang sekarang. Dua langkah kemudian mereka berhasil keluar. Mereka keluar! Menjauh. Mereka berpisah jalan, gandengan tangan terlepas. Mereka berdua tak lagi berlari bersama.

Namun ia salah arah.

********

Mengaduh sudah sulit, ditengah injakan sepatu sekolah yang ia terima di kepala, badan, dan kakinya. Ia mencoba melingkarkan kedua lengannya di kepala, berlindung. Tetapi kaki-kaki itu terlalu beringas untuk ditahan. Sakit tak lagi terasa. Sarafnya hambar. Sesekali ia lihat seragamnya penuh bercak merah. Darah siapa, pikirnya. Namun kaki-kaki itu masih menginjak-injak tubuhnya. Ia tak bergerak, sebab mencoba pun sia-sia.

Ia dengar seorang ibu histeris, menjerit. Ia dengar suara berat laki-laki yang sepertinya sudah berumur, marah-marah, entah pada siapa. Seperti melerai, mengusir. Ia dengar kericuhan. Ia tak tahu siapa yang menjerit, siapa yang marah-,arah, dan karena apa. Ia sendiri seperti baru bangun, dan tak berniat bangun. Yang ia tahu, tangannya lemas. Matanya berat, badannya kaku. Bayangannya mulai membingungkannya antara mimpi dan kenyataan, ia melihat kamen rider dengan segala aksinya, di matanya. Sementara kumpulan suara itu semakin jauh, dan ia memutuskan untuk tidur. Satu hal yang ia sayangkan, ia tak bawa sapu tangan jingga itu.

 

* kereta=sebutan sepeda motor di Medan.

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.533 pelanggan lain

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: