Pra Praktik Lapang (ed 2)

Pra Praktik Lapang (ed 2)

Rangkasbitung-Pandeglang, 30 Juni-02 Juli 2012

Bahu sebelah kanan memulai agenda protesnya, dimulai rasa nyeri yang pelan-pelan merambat dari atas, hingga ke tepian tulang belakang. Apa pasal? Protesnya  karena tak tahan kesemena-menaanku meletakkan dua buah tas ransel besar penuh pakaian-laptop-alat mandi-sepatu dan kebutuhan sehari-hari lainnya di panggulannya, sekaligus. Ya, sekaligus! Tak pelak aku pun protes jika jadi ia..

Tapi bukan sepenuhnya keinginanku mencobai kemampuan bahuku sedemikian rupa. Memang kenyataan yang memaksa. Perjalanan Bogor-Rangkas-Pandeglang dengan sebuah sepeda motor berdua dengan teman seperjuangan-dengan barang yang juga banyak-, tak bisa mengelakkan bahwa barang-barang juga harus dipenuhi di atas sepeda motor. Bahu, lengan, tangan, paha, juga mesti kuat menahan derita. Semua demi kewajiban. Memang kewajiban tetaplah kewajiban, mesti terlaksana.

Setelah beberapa hari diterima dengan amat sangat hangat oleh keluarga hangat teman seperjuangan yang hangat, berbekal doa dan perasaan lega, perjalanan menuju Pandeglang di mulai. Mengapa lega? Ya, karena beberapa hari ketidakjelasan melanda pikiran kami berdua-padahal sejak jauh-jauh hari katanya sudah aman- terkait boleh tidaknya kami melaksanakan PL di sebuah tambak udang di Pandeglang. Telepon pihak sana sini, terkesan dioper-oper, boleh tidak boleh, hingga malam tadi tiba berita bahwa kami diterima. Penerimaan itupun kami iringi dengan perayaan kecil-kecilan, sekedar berjalan malam disekitar alun-alun, memakan jamur renyah ditemani segelas bandrek susu hangat. Ayah sang teman seperjuangan tak kalah senang, beliau merayakannya dengan membelikan kami sepaket martabak yang cukup besar..

Tak hanya bahu yang protes kali ini. Paha, tangan, dan teman-temannya juga mengajukan permohonan. Tapi rasa senang melibas-libas, menguatkan selama perjalanan ke tempat juang. Meski akhirnya ngaso di pinggiran pantai pun menjadi pilihan sebelum masuk ke gerbang tambak. Akhirnya setelah beberapa bungkus roti dan teh kemasan habis, kami sepakat untuk masuk ke gerbang dan mencari sang calon pembimbing lapangan PL.

Cemas itu datang. Datang dan disambut dengan kekecewaan setelah menunggu 3 jam pembicaraan petinggi tambak ini. KAMI TIDAK DITERIMA! Lever, jantung, limpa, paru-paru seperti turun, mencelos kebawah lambung. Bagaimana nasib kita? Sejauh ini berjalan. Sepenat ini kondisi badan. Seriang ini perasaan. Mesti pulang dan mencari tempat PL lagi?

Allah berkata lain. Pelajaran hidup ternyata diberikan pada kami. Atas dasar kebaikan hati sang manager produksi tambak-yang juga calon pembimbing lapangan kami-, kami diterima secara tidak resmi, asal niat kami memang untuk belajar. Walaupun beliau tidak dapat menyediakan fasilitas apapun, kecuali seperti apa yang didapat oleh buruh-buruh tambak disini. Tempat tinggal di ruangan genset super besar-yang tidak bisa menjadi tempat tidur saat mati listrik akibat suara seperti pesawatnya-, tempat mandi  outdoor tanpa WC tanpa pintu yang hanya dikelilingi oleh spanduk-spanduk sebagai dindingnya, toilet pintu rusak tanpa lampu yang amat keterlaluan jauhnya, air asin dengan ukuran salinitas kadar garam 10 – diukur benar-benar oleh teman seperjuangan- sebagai air mandi dan mencuci, makan murah sepuluh ribu untuk tiga kali makan dengan menu yang sama –tahu pagi, ikan hasil mancing dan sayur kala siang dan malam- tiap harinya, akses pasar yang jauh, adalah fasilitas yang dapat beliau sediakan untuk kami.

Dengan sedikit kepercayaan diri dan kemantapan yang meluntur, kami SETUJU!

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.533 pelanggan lain

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: