Filsafat Hume dengan Bias Usaha dan Rezeki

Antara Filsafat Hume dengan Hubungan bias usaha dan rezeki

Bogor, 7 Januari 2013

hume dan rezeki

David Hume, salah seorang tokoh empirisis Inggris. Hidup sejak 1711 hingga 1776 pada zaman pencerahan yang sama dengan filsuf besar Voltaire dan Rousseau. Filsuf yang memulai pikiran-pikirannya (yang bertentangan dengan filsuf-filsuf besar lain sebelumnya) dengan membagi persepsi manusia kedalam dua jenis, persepsi kesan, dan persepsi gagasan. Kesan membentuk persepsi langsung indrawi atas realitas fisik. Sementara gagasan, menurutnya, ialah memori dan perluasannya yang berkembang dalam pikiran.

Bukan. Bukan langsung hubungannya, antara Hume dan falsafahnya dengan hubungan bias usaha dan rezeki. Secuilpun rekaman pemikirannya tidak ada yang menyangkut turunnya rezeki, dari Sang Pemberi Rezeki. Alih-alih, ia bahkan seorang agonistik, filsuf yang berpendapat bahwa keberadaan Tuhan tidak dapat dibuktikan kebenarannya maupun ketidakbenarannya. Mengambang. Hume percaya keajaiban sebesar ia tidak mempercayainya.

Secara ringkas, pemikiran Hume mengenai keajaiban (dalam hal ini kuasa Sang Pencipta), ia jabarkan dalam hubungan sebab akibat yang bias antara dua hal yang terlihat berhubungan. Manusia secara umum, akan langsung berpikir bahwa batu akan jatuh ketanah bila lepas dari genggaman. Manusia mengambil kesimpulan atas dasar pengalaman empirik sejak usia leluasa berpikirnya, bahwa berulang kali, batu akan jatuh ke tanah bila dilepaskan. Kesimpulan itu, menurut Hume tercipta akibat persepsi yang bertumpuk dan menjadi kebiasaan. Manusia berpikir batu akan jatuh karena selalu melihat batu jatuh. Manusia terbiasa dengan satu hal yang terjadi mengikuti hal yang sebelumnya, sehingga “harapan” bahwa batu akan jatuh menjadi “kesimpulan” bahwa batu pasti jatuh.

Sebuah kasus imajiner dapat kita bayangkan. Seorang manusia berusia 21 tahun berjalan bersama seorang balita berumur tiga tahun menuju sebuah pertunjukan sulap, dimana sang pesulap melepaskan batu ke bawah. Namun alih-alih berdebum menghantam tanah, batu tersebut malah melayang meninggi. Silakan bayangkan, kira-kira siapa yang terkejut dan terkagum. Balita, atau manusia 21 tahun. Benar, manusia 21 tahun. Persepsi seorang manusia yang telah mengalami hidup selama 21 tahun dan sudah beribu kali menyaksikan batu yang jatuh ketanah, mengatakan bahwa sulap tersebut mustahil dan ajaib. Sementara untuk balita 3 tahun, masih sulit untuknya menentukan yang mana yang ajaib. Batu jatuhkah, atau batu melayang, sebab pengalaman dan persepsinya belum menjadi kebiasaan dan membentuk “harapan” akan terjadinya sesuatu.

Ketika Hume membahas kekuatan kebiasaan, dia memusatkan pemikirannya pada “hukum sebab-akibat”, yakni hukum yang menetapkan bahwa semua hal yang terjadi pasti menyebabkan atau disebabkan oleh hal lain. Hume mencontohkan sebuah bola bilyar putih yang disodok menghantam bola hitam. Manusia akan menarik kesimpulan bahwa bola hitam akan bergerak segera setelah terhantam bola putih, dan mengambil kesimpulan bahwa bola putih adalah penyebab bergeraknya bola hitam. Lagi-lagi kesimpulan itu tercetus dari “harapan” yang dibentuk oleh persepsi kebiasaan. Jika kita bertanya pada balita yang tadi, peluang bergerak dan tidak bergeraknya bola hitam saat dihantam adalah sama. Dan itulah hukum alam. Bukan berarti karena hukum alam yang biasa kita lihat membuat kita berkesimpulan bahwa hukum alam yang berlawanan tidak ada. “harapan” dari persepsi sering dijadikan manusia untuk membuat kesimpulan, yang salah.

Kenyataan suatu hal mengikuti hal lain karenanya tidak selalu bersifat kausal dan melekat, melainkan hanya tercitra di pikiran manusia. Kejadian bola hitam bergerak bukan karena dihantam bola putih, melainkan karena ada hal ketiga yang menyebabkan bola putih bergerak untuk menghantam bola hitam, energi. Sama seperti takhayul, seringnya kita melihat orang yang langsung tertimpa kemalangan setelah menabrak kucing hitam dijalan, bukan berarti membuat kita menyimpulkan bahwa kucing hitam yang menyebabkan kesialan. Sembuhnya seorang pasien terhadap penyakit mereka setelah meminum obat, tidak lantas disimpulkan bahwa obat itulah yang menyembuhkan pasien tersebut. Ada faktor ketiga, yakni keyakinan akan sembuh dari pasien tersebut, keajaiban, dan yang tidak dijabarkan oleh Hume, Kekuasaan Sang Pencipta, ALLAH.

Kebanyakan manusia berkesimpulan, bahwa usaha keras menyebabkan rezeki datang. Besarnya usaha menentukan besarnya rezeki yang datang padanya. Kesimpulan ini ditarik dari “harapan” yang terbentuk dari persepsi bahwa selama ini rezeki diperoleh seseorang karena secara kasat mata orang tersebut berusaha keras. Maka muncullah sebuah kalimat manis:  “bekerjalah semampumu, kemudian berdoalah agar usahamu berhasil”. Tidak sama dengan Hume memang, dari segi ketuhanan. Namun ini mengindikasikan bahwa bekerja adalah yang terpenting, tidak ada gunanya berdoa tanpa usaha, sekuat apapun doanya.

Kesimpulan ini ternyata tidak benar, karena seperti masalah bola hitam dan bola putih tadi, kebanyakan manusia luput dari penyebab awal turunnya rezeki, sebab ketiga. Yakni bahwa rezeki itu datangnya dari ALLAH. Bukan kerja yang mendatangkan rezeki, tetapi Allah yang memberikan rezeki karena melihat besarnya kerja seorang manusia. Maka, hubungan antara besarnya kerja dengan besarnya rezeki yang diperoleh bukanlah sifat kausal yang melekat. Namun hubungan seberapa besar kehendak Allah memberi rezeki dengan seberapa besar rezeki, lebih kuat melekat. Oleh karena itu, usaha untuk memperbesar kehendak Allah dalam memberi kita rezeki, lebih membuka peluang akan besarnya rezeki yang kita terima. Bagaimana membesarkan kehendak Allah untuk memberi kita rezeki? Dengan cara memohon tentu saja. Maka dalam hal ini, bekerja, adalah sama fungsinya dengan berdoa, bahkan lebih kecil porsinya. Shalat dhuha, shodaqoh, dan qiyamullail menjadi katalis penting diterimanya sebuah permohonan. Bekerja menjadi bukti seberapa besarnya niat kita membesarkan kehendak Allah untuk menurunkan rezekiNYA pada kita. Dan seperti pada kasus sembuhnya pasien, keyakinan yang kuat akan diberi rezeki oleh Allah, juga merupakan faktor penting yang tidak boleh terlupa. Maka dalam memohon rezeki, sertakan Allah sebelum bekerja, sertakan Allah saat bekerja, dan sertakan Allah selesai bekerja.

Seperti kata Hume, kemungkinan lain selain kemungkinan yang biasa kita lihat, bukan berarti tidak ada.

Wallahua’lam bisshawab.

 

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.528 pelanggan lain

Follow

Follow Di Sudut Pandang Fajar on WordPress.com
Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: