Rembulan (tak) Tenggelam Di Wajahmu

Rembulan (tak) Tenggelam di Wajahmu

Bogor, 27 september 2012

mengikat tali sepatu
Aku tak kenal kau. Akupun tahu kau tak kenal aku. Kau tak kenal aku, dan kau tahu aku tak kenal kau. Kita bahkan tak mengenal perkenalan. Tak ada bicara, tak ada percakapan. Jangankan pertemuan wajah, pertemuan matapun entah.  Meski begitu, tak ada yang berhenti. Dunia tetap berjalan cepat, meninggalkan orang-orang yang tak siap berlari. Siang masih berjanji pada malam untuk saling mengganti lelah. Orang-orang tak berhenti hilir-mudik, terlambat menuju kelas. Suasana tak berhenti ramai. Penjaja makanan favoritmu tak berhenti melayani pembeli. Dosen-dosen tak berhenti menyeracau, meski dua-tiga mahasiswanya manggut-manggut berusaha keras menahan kantuk yang terlalu. Semua tak berhenti, kecuali sepeda jingga kotorku, yang berhenti saat kau lewat.

Semua ini tentang aku. Aku sentris, kusebut. Aku menganggap diriku pusat dunia, tidak, pusat alam semesta. Semesta berputar mengelilingiku. Alam berevolusi perlahan disekitarku. Komunikasi mengalir bak sungai tanpa sampah di balik retinaku. Aliran ilmu mengucur deras keluar masuk, menujuku dan keluar dariku. Matahari pagi tak pernah terlambat bangun untuk menemuiku dan menjagaku dari hipotermia sepanjang jarum jam kerjanya. Awan menurunkan hujan, berbutir-butir, untukku.Musik yang mengalun, memanjakan telingaku. Dunia, adalah tentangku.  Kau pun, kuanggap tentang aku.

Banyak yang tak kau tahu tentangku. Jelas saja, kita tidak saling kenal. Aku pun, banyak yang tak ku tahu tentangmu. Bahkan namamu saja masih jadi titik-titik di lembaran soal kehidupan yang kukerjakan sampai sekarang. Namun sekali lagi, dunia tak berhenti karena itu. Aku pun tak terlalu khawatir dengan keadaan itu. Aku cukup menikmati ‘kegiatan’ yang kulakukan tanpa permisimu. Kegiatan yang tak kau tahu, meski masih terjadi peperangan hebat di dadaku tentang apakah kau perlu tahu itu, atau tidak. Aku juga tak mau buang waktu mencemaskan apa reaksimu nanti saat kau tahu, sebab sekali lagi, aku pusat dunia.

Kau tak tahu bukan, berapa menit yang kutambahkan ke kegiatan dadakan ‘mengikat tali sepatu yang lepas’-ku, meski sebagian besarnya pura-pura, saat kau tergesa-gesa melewati simpang tiga koridor fakultas ini? Kau pasti tak tahu, berapa puluh bekas sidik jariku menempel manis diatas kertas pengumuman nilai, entah kubaca entah tidak, sembari menoleh curi-curi ke arahmu saat kau berjalan sambil berbicara dengan temanmu-yang juga tak kukenal- di tangga sebelah kantin. Kau juga tak tahu aku sering berseru sendiri “yah, dia pergi” saat dari lantai 4 kulihat kau berjalan semakin jauh, pulang. Kurasa kau pun tak tahu berapa detik di sela-sela sengganggku, sibuk mengusirimu jauh-jauh saat bermain-main sesukamu ditengah-tengah otak kananku yang lamun.

Banyak lagi hal tentangku yang tak kau tahu. Namamu yang masih gelap, menenangkanku. Gelap yang menerangi, membuatku leluasa meneruskan kegiatan-kegiatan itu tanpa dihambat rasa khawatir kau marah. Beberapa hal agak menyakitkan terkadang, memang. Menyakitkan mesti bergelut dengan rasa penasaran dan kebingungan, nama apa yang harus kupanggil-panggil bersama senyum yang tak sengaja dalam beberapa detik saat pukul delapan malam di kamarku. Belum lagi aku mesti menahan kuat pemberontakan jantungku sendiri, saat si takdir usil membuat jalan kita berpapasan. Ya, kau tahu, aku tak berani.

Aku tak mau repot-repot membalik-balik buku biologi untuk menganalaisis “penyakit” apa yang sedang ku idap. Semacam addicted, candu. Candu yang menyiksa, sekaligus menyenangkan. Anehnya, aku begitu serius memfokuskan diri saat kuliahku membeberkan apa yang terjadi pada manusia saat didera ‘memar merah jambu’, ya, kuliah semester akhirku membahas hal itu. Hanya beberapa indikasi yang kuidentifikasi sama dengan yang sedang kuidap. Sebab itu pula aku tak percaya sepenuhnya.

Aku adalah pusat semesta, kubilang. Semua yang berjalan, berjalan disekelilingku. Semua yang behubungan, berhubungan denganku. Dunia berputar untukku. Alam berevolusi perlahan di sekelilingku. Takdir yang berputar, berbicara tentangku.Semua tentangku. Kau pun tentangku. Kalau dalam takdir yang berbicara tentangku masih ada kau, kaupun masih akan ada disekelilingku. Jika evolusi alam yang mengalir disekitarku masih ada tawamu, maka akupun masih bisa mencuri-curi wajahmu tanpa kau tahu.

Tetapi apa kau tahu, meski aku adalah pusat dunia, satu kali aku berpikir keras, mengapa aku tertarik sangat kuat padamu. Dalam berbagai posisi. Seperti gravitasi yang tak terlihat, menyeruak. Pupilku seperti punya sistem auto focus, yang mampu mendeteksimu, dalam berbagai angle. Kau tahu kenapa? Karena ada rembulan yang tak akan tenggelam, di wajahmu.

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.533 pelanggan lain

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: