Baik

BAIK

Bogor, 19 Juni 2012, 17.25 WIB.

 Kelebihan-Manusia-Dibanding-Makhluk-Lain5

Satu kali ini, kesekian kalinya aku menemukan wujud degradasi dari “sifat baik”. Entah wajar atau entah memang sifat dasar manusia, pada dasarnya tak ada boneka berwujud manusia yang selalu “baik” setiap saat. Itu pula yang mendasari predikat “makhluk paling sempurna” yang dipikulkan ke ubun-ubun manusia, yang bahkan gunung saja menolak.

Sering sulit menerima momen-momen yang tidak sesuai dengan apa yang sering kali terekam di memori tentang sifat seseorang. Sulit menerima sifat-sifat yang boleh jadi “baru terlihat” milik seseorang yang sama sekali diluar penalaran yang selama ini terpatri mati, bahkan sebagai ciri pembeda orang tersebut dengan orang lain. “sifat baik”, dengan segala relativitas makna yang dihubung-hubungkan dengan sifat dua kata tersebut.

Tapi inilah bukti pasti titel “makhluk paling sempurna” yang disematkan di ubun-ubun segumpal darah-sebongkah tulang-sekerat daging yang hidup bernama manusia. Ketidaksempurnaan manusia adalah bukti sempurnanya manusia. Sempurna bersama akal dan tenaga serta keinginan untuk bergerak dalam melodi-melodi perubahan yang ia nyanyikan sendiri, sembari menutup lubang-lubang ketidaksempurnaannya.

Tak selalu “bersifat baik”–dalam sifat-sifat senada yang bermeridian dengan itu—tak ayal juga membuka spesi-spesi tumbuhnya “sifat baik” manusia lainnya, sebut saja rendah hati, pengertian, pemaaf dan prasangka baik. Sempurna dalam menginduksi kesempurnaan lainnya.

Tak selalu “bersifat baik” mengindikasikan kompleksitas manusia, tersusun dari jutaan keping elemen-elemen yang sudah-belum-tak terdefinisi oleh akalnya sendiri yang juga kompleks. Degradasi itu menegaskan manusia punya taste, punya rasa, punya emosi. Bukan karang, bukan manekin. Punya lekukan otak, punya kait-kait syaraf beserta ribu macam pola-pola stimulusnya, punya pemicu dan peredam. Arteri-arteri yang meliuk ruwet, membawa zat-zat ajaib yang membuat manusia punya antisipasi manusiawi terhadap apa yang ia terima dari dunia luar. Sempurna dalam konteks kerumitan.

Maka, memahami manusia mesti manusiawi. Memahami kesempurnaan manusia mesti dengan parameter-parameter sempurna yang manusiawi. Sebab kita adalah manusia yang menjadi tokoh utama dalam cerita panjang berjudul kehidupan. Memahami “sifat baik” manusia lain juga merupakan “sifat baik”. Mari menjadi manusia yang manusiawi.

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.533 pelanggan lain

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: