TAKBIR KE DUA PULUH DUA

TAKBIR KE DUA PULUH DUA

Medan 18 Agustus 2012

Sayup takbir menyayup selang seling dalam rekahan warna jingga muda pagi itu, tepat dua puluh dua tahun yang lalu. Allahu Akbar, Allahu akbar, walillahilhamdu. Merantai, membahana keseluruh sudut pinggiran kota yang sudah ramai, hilir mudik. Meski kabut belum hilang benar, embun tercecer terganggu dengan aktivitas manusia yang bergegas menyeru Rabb nya. Semua sibuk. Sibuk dengan senyum tersunging. Sibuk dengan memasang ekspresi sumringah berlipat-lipat. Sibuk menyalakan kendaraan, sibuk mempersiapkan busana terbaik yang dibeli susah payah beberapa hari yang lalu. Sibuk mengunci rumah, menuju masjid terdekat, yang sejak tadi bertakbir seolah memanggil manggil mendayu haru biru.

Di sebuah sudut pinggir kota itu, dalam sebuah rumah, peristiwa lain terjadi. Ekspresi yang tergambar sama.  Sumringah, gembira, haru biru. Namun bercampur khawatir dan tak sabar. Disana juga terdengar takbir yang menyayup, namun disela oleh suara. Suara tangis. Tangisan polos pertama kali seorang manusia saat kali pertama mencium fana dunia. Tangisan polos pertama kali seorang manusia saat terkejut karena terlepas dari hangatnya alam rahim. Tangisan bayi yang tak melihat ringkihnya manusia disekelilingnya. Tangisan bayi yang tak melihat ekspresi haru manusia sekelilingnya. Tangisan bayi yang tak mengerti takbir yang didengarnya pula. Tangisan bayi yang tak mengenal rengkuhan siapa yang dirasanya. Tangisan bayi yang menjemput hidup di bumi. Tangisan bayi.

Dalam rumah itu kesibukan berlipat. Akibat si bayi. Beberapa orang shalat ied, beberapa tidak, demi si bayi. Termasuk ayah dan ibunya. Beberapa bergegas mondar mandir membawa baskom berisi air dari belakang rumah, sembari menggendong handuk kecil dibahunya. Seseorang bergegas membawa kain bedong, panjang bermotif batik coklat kedalam kamar tempat si bayi. Beberapa sibuk menyiapkan makanan khas hari raya yang sebenarnya disiapkan bukan untuk si bayi, melainkan sengaja sebagai tradisi tiap datangnya hari penuh takbir itu. Beberapa sibuk menatarapikan perabot, barang-barang dan ruangan yang sekejap berubah berantakan. Beberapa sibuk dengan rasa senang. Sedangkan satu orang masih tak mengerti mengapa orang lain bergegas berlalu lalang. Satu orang masih tak tahu suara sayup apa yang didengarnya dari tadi. Satu orang masih tak tahu siapa lelaki besar yang mengusap pipinya sejak tadi. Satu orang masih tak mau tahu dan memilih untuk tetap menangis dan menyaingi suara takbir.

Entah sudah orang keberapa yang bertakbir bergantian di mesjid sana, menandakan shalat ied belum dimulai. Pagi pun belum bosan bertengger, dan belum hendak mengganti wajah fajar yang masih hangat menyungging. Masih damai, dalam lalu lalang. Tangis sudah agak reda kini, si bayi dibalut kain menyisakan wajah kecil yang sembab mengucup ibu jari. Lelap diatas pangku si ibu. Ia yang masih belum bernama, yang semakin tak peduli karena hangat didekap. Sementara sang ayah, tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Sang Empunya hari mulia itu.

Tepat dua puluh dua tahun yang lalu, saat pagi terpaku mendengarkan takbir. Sebuah nama terikrar penuh makna pada seorang bayi. Nama penuh harap orang tuanya. Nama besar, sebesar matahari pagi. Nama yang mencerminkan saat kelahirannya. Tiga kata rangkaian tersulam, menciri dan memakna. Fajar Islam Sitanggang. Menunjukkan siapa, kapan dan dalam keadaan apa ia lahir. Muslim bersuku batak bermarga Sitanggang, yang masih jarang ditemukan didaerahnya. Nama besar itu berarti pula Matahari pagi dari tanah batak yang menyinarkan syiar Islam ke seluruh dunia. Sungguh nama berat dengan tanggung jawab berat. Harap besar ayah dan ibunya, agar ia kelak menjadi kesatria demi agamanya.

Bayi itu kini tepat menginjak dua puluh dua tahun. Ini sudah ke dua puluh dua kali ia mendengar sesayup takbir ditelinganya. Namun baru beberapa tahun silam ia memaknai sesayup itu, sembari mengucur airmata tak sadarnya. Ia kini sulit menangis, bahkan untuk Rabbnya. Sesekali ia merasakan ganjal keras dalam dadanya, menyesak sesak tanpa aturan. Ia kini sering alpa shalawat pengantar tidur ibunya yang jadi lagu favoritnya kala kecil dulu. ia kini sering merasa bijak dan berilmu, meski tak sebiji zarrah ilmu yang digenggamnya. Ia kini tak luput dari pongah, seolah ia mampu berdiri di puncak menara tertinggi di semua kota yang ia jelajahi. Ia kini tak jarang lupa memohon ampun pada Rabbnya. Ia kini tak ingat lagi harapan orang tuanya, dibalik namanya.

Baginya, takbir ke duapuluh dua adalah sangkakala pengurang sisa umurnya. Takbir itu mesti mengarahkan langkahnya lurus dalam jalur yang ditetapkan penciptanya. Baginya, takbir itu mesti menjumpakan ia dengan matahari pagi, bercengkrama, sama seperti duapuluhdua tahun yang lalu. Baginya, takbir ke duapuluh dua itu jadi saat penting dan kesempatan memeluk kedua orangtuanya hangat erat, membalas. Baginya, takbir ke duapuluh dua itu lonceng tanda ia mesti harus dewasa, menjadi kesatria dalam agamanya. Baginya, takbir keduapuluh dua itu merupakan bunyi permulaan bahwa ia mesti menjadi matahari pagi dari tanah batak yang menyinarkan syiar Islam ke seluruh dunia. Baginya, ia mesti menjadi dirinya yang semestinya, Fajar Islam Sitanggang.

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.533 pelanggan lain

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: