Aku, Beda

AKU, BEDA!

Pandeglang, 14 Juli 2012, 17.30 WIB

 

Satu sore, menunggu jatuhnya matahari yang sudah berulangkali mengucap salam perpisahan, sembari menikmati asyiknya lapis-lapis gradasi warna jauh di tirai langit, disebuah tambak.

 

Di sebuah sudut tak terlihat di ladang datar ini, melodi terdengar manja. Melodi yang bersumber dari dawai-dawai kedamaian. Paduan gradasi nada tinggi-rendah bak sehelai bulu yang menentramkan bulu roma. Damai yang menusuk tulang, menggigilkan keceriaan. Sementara burung-burung dua-dua terbang hilir mudik menari tak kusapa. Mungkin menarikan kebebasan, atau sekedar bercengkrama dengan angin yang sedang riang sore ini. Pucuk-pucuk ilalang menguning, pun menari. Membiarkan bibit-bibit kehidupan baru terbang menyebar ke tiap sudut kota-tepi pantai ini sejauh-jauhnya.

 

 

Aku tak mampu melisan. Diam dipahat takjub, daun-daun mati pohon bakau yang berguguran terlihat seperti fase-fase kehidupan di retinaku. Lahir, mungil, dalam dekapan, langkah pertama, kata pertama, teman kecil, putih biru, kehilangan, sekolah tinggi, hingga fase dudukku di tanah ini. Ya, meski beberapa fase kuingat hanya melalui album foto yang ditunjukkan ibuku, dan sebagian lagi diceritakannya dan mengundang rasa penasaran dan tak percayaku padanya.

 

 

Bahkan demi bulan, tak pernah kurencanakan semua ini. Tiap lembar fase hidup yang helai perhelai ku buka, tak pernah diakari oleh rencana, sekalipun target dan sejenisnya. Olehku, oleh orang tuaku, tak oleh sesiapapun. Hanya Penciptaku yang paling tahu ini, karena pasti Dia yang merencanakan, siapa lagi?

 

 

Berpuluh kali kuganti cita-cita. Kusayati satu-satu, entah berdasar niat, kesempatan, maupun hasrat. Teringat cita-cita paling jelas pertama ketika masih kusandang putih-merah itu, kepala negara. Kuanggap itu laiknya ocehan bocah berumur delapan tahun yang tiap detik sekolahnya dipetuahi guru agar menggantungkan cita-citanya setinggi bintang. Ada pula cita-cita saat berevolusi menjadi bocah berpakaian putih biru, seorang insinyur robotik.  Berkat itupulalah kucintai ilmu pasti. Ilmu hitung dan ilmu fisik. Persoalan hitungan dan ilmu fisik pernah menjadi santapan yang kurindu. Bahkan aku ingat, sejak tingkat pertama putih biru, aku tak bisa makan tanpa membuka buku pelajaran kakakku sekedar memperhatikan bintang, planet mulai dari merkurius-pluto, gaya magnet dan elektromagnet, kakakku sering menghardik karena bukunya penuh sisa-sisa nasi dan kumal.

 

 

Tapi tak diberi jalan aku kesana, secinta apapun aku dengan mereka. Semakin lama kukontrak usia, semakin berubah kecintaanku, condong kearah hayati. aku ingat aku mulai bosan dengan angka-angka. Kulupa formula. Enyah. Karena guru hayatiku yang mempesonakanku dengan pelajaran hayatinya? Entah, yang jelas beliaulah salah satu dari sekian banyak faktor.

 

 

Langkah kakiku di institut ini? Sama saja. Sekedar menemani sahabat baikku mencobai kesempatannya mendaftar, tak lebih, meski akhirnya antusiasme itu berkecambah perlahan. Bertemu dengan manusia-manusia hebat, pupuk inspirasi, juga bukan rencanaku. Diberi amanah sebagai kepala mahasiswa di jurusan, alih-alih kurencanakan, mimpi pun tak! Meski aku amat sangat bersyukur diamanahi itu. Beribu entahpun kukeluarkan, aku tetap tak mengerti.

 

 

Sebagian orang menganggapku konyol. Tak etis, tak punya cita-cita. Pasal? Sebab aku bukan orang yang mudah terpancing dan bersemangat awet terhadap satu tujuan masa depan. Aku tak pernah membawa pulang semangat yang kudapat dari acara-acara peningkat motivasi. Aku tak pernah rutin menulisi mimpi-mimpi dikertas dan mencoretinya satu-satu seperti salah seorang sepuh terhebat yang pernah kukenal di institut ini. Aku tak bisa kembali ke masa kecil saat lidah dengan mudah mengumbar cita-cita. Yah, bahkan aku pun membingungi diri, meski orang tak tahu dan tak perlu tahu.

 

 

Bagiku, masa depan bukan aku yang tentukan, maka aku tak terlalu pusing tentang apa yang terjadi padaku dimasa depan.  Bagiku, setiap orang punya jalan yang pas untuk dirinya, di masa lalu, masa kini dan masa depan, dan jalanku, bukan dengan menentukan cita-cita yang stagnan. Ini pula lah yang mebuatku tak terlalu lama memeluk lutut memuruki kesedihan dan kekecewaan saat terget jauh dari pencapaian. Konsep ini membuatku tak terlalu membebani pikiran dengan iri tak berkesudahan atas pencapaian orang lain.

 

 

Entah aku memang konyol, tapi modalku hanya seharap. Kujalani tiap fase hidup dalam kepsrahan dalam kuasa Penciptaku. Kuturuti apapun peran yang diberi Penciptaku kepadaku. Usahaku hanya mempersiapkan diri atas semua kemungkinan, dan mengambil peluang apapun yang ada didepanku. Menurutku, peluang-peluang itulah yang nanti mendekatkanku dengan masa depan. Kupersiapkan, kuperbaiki diriku untuk rencanaNYA, meski tak dipungkiri aku pun menyimpan harapan atas rencana masa depanku.

 

 

Aku menjaraki rasa minder, aku berbeda. Yang aku yakin, penciptaanku dengan segala yang diamanahkan padaku bukan kebetulan. Pola pikir, postur tubuh, keadaan lingkungan, keluarga, bukan kebetulan melainkan satu paket modal yang dititipkan padaku untuk menjalankan sebuah misi didunia. Misi apapun entah, belum sampai persepsiku mendefinisikannya. Tapi aku terlahir dengan sebuah misi dari Penciptaku, yang tidak akan dilakukan oleh orang lain selain aku.

Dan juga untukmu.

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.533 pelanggan lain

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: