JEJAK

JEJAK

Catatan kecil di tepi kaki langit. Pandeglang, 09 Juli 2012, 22:13 WIB

Satu atau beberapa kali, pandangan tak ingin lepas dari visi. Melekat, menjulur laju jauh ke batas cakrawala, meski menghilang di batas hujan. Tak keluar jalur. Dipecut cepat oleh konsepsi pencitraan masa depan, yang direka imajinatif oleh imajinasi yang imajiner. Terlihat nyata. Terpaku. Terpaku kontemplasi yang bulat, sebulat tekad yang merengek-rengek minta pencapaian.

Satu atau beberapa kali, lisan mengerdil merapat. Terjahit mulus tanpa celah oleh benang-benang hipnotis kekaguman. Gagu menakjubi rencana-rencana maha dahsyat hasi rekayasa jutaan sinaps yang tak pernah tidur, merangkai potongan teka-teki ekspresif. Tentang mimpi, hasrat, proyeksi diri di masa depan, dibordiri helai-helai kebahagiaan di sendi-sendinya. Entah, tetapi terlarang untuk bayangan-bayangan depresif seperti sedih-kehilangan-sakit-murung-gagal bahkan kematian. Gagu menahun, menjadi zona privasi yang diliputi sukacita, milik sendiri.

Satu atau beberapa kali, bagian motoris tubuh melekat di rel. Merespon rangsang yang hanya sesuai dengan informasi dari jalur isyarat hasil gesekan-gesekan romantis kreativitas dan keinginan. Mengacuhkan yang lain. Meski mereka mencubit atau sekedar mengelus-elus punggung yang terbuka lebar dari belakang, sekedar untuk diperhatikan. Tak bergeming, lurus melesat. Depan. Depan.

Namun satu atau beberapa kali, kesadaran datang menyapa iseng. Sekedar mengingatkan akan kealpaan. Kealpaan akan motivasi, kealpaan akan niat yang tertinggal jauh di langkah pertama. Sekedar mengingatkan bahwa kaki mulai berdarah, ditelusuki dahan-dahan tajam di lantai perjalanan. Sekedar mengingatkan bahwa mata mulai digerayangi kantuk yang bergelayutan, meski ditutupi oleh debu-debu yang berterbangan. Sekedar mengingatkan bahwa sendi-sendi sedang kelaparan, lapar dirasuki kepenatan yang luar biasa hingga ke sumsum. Sekedar mengingatkan posisi yang sendiri, terlalu fokus pada diri sendiri dan tak menggubris sesiapapun yang akhirnya pergi karena alergi dengan ambisi dan altruisme yang meluntur. Sekedar mengingatkan bahwa dunia bukan hanya segumpal impian dan obsesi.

Akhirnya satu atau beberapa kali, jejak-jejak teriak memanggil, keras bersahut-sahutan. Tak bosan menunggu tubuh keseluruhan menengok empat puluh lima hingga sembilan puluh derajat kebelakang. Mengukur berapa puluh-ratus-ribu-juta bentuk-bentuk kaki berjajar dibelakang. Lurus, belok, melingkar. Langkah yang menjejak. Jejak.

Ya, untuk itulah jejak tercipta. Memanggil riuh rendah kala emosi terpaut lekat pada ambisi dan impian. Memanggil penuh perhatian untuk sekedar mengganti langkah-langkah yang salah, sebagai bahan evaluasi langkah yang semakin hari semakin merapuh. Memanggil tegas, mengingingatkan kembali otak kepada tugu niat yang terpatri di jejak pertama. Memanggil lembut menyeru agar berhenti sejenak, sekedar melepas lelah atau mengencangkan tali sepatu agar langkah kembali mantap.

Di atas jejak nun jauh dibelakang, terdapat emosi dan memori. Di atas jejak tertancap foto-foto riang wajah-wajah menyenangkan teman-teman yang senantiasa mendukung dengan caranya masing-masing, yang mungkin sudah lama terlupa. Diatas jejak terbaca memori tentang melodi-melodi indah yang membawa kepada kenangan haru-biru nostalgia. Diatas jejak tertetes peluh, yang bernyanyi penuh semangat menguatkan kaki. Diatas jejak terhias air mata, tangis yang menyayat menggema atas dasar kerinduan-kesedihan dan kebahagiaan. Diatas jejak terpotong-potong fase-fase kehidupan satu demi satu, yang mulai kabur ditelan waktu dan ingatan. Diatas jejak..

Entah apa, entah siapa. Yang pasti, aku ingin menoleh.  

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.533 pelanggan lain

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: