Sajak Makam Sang Fajar

Sajak Makam Sang Fajar

Bogor 24 April 2012

Nanti jika suatu saat perjalananmu sampai pada pinggir kota jauh di utara tanah pertiwi yang menangis ini, dan kau memanggul waktu ditanganmu, jangan sungkan untuk menyapa tanah dan mencecar horizon dengan matamu. Kala kau lihat tempat dua pohon ceri merah meliuk bertemu disisi sungai dekat anak-anak reramai menuntut ilmu, kau akan temui nisan tanpa nama, dan jangan sungkan untuk menjenguk sembari membacakan sepucuk duapucuk sesajak yang dulu sering kau buat. Sajak apa saja, sajak yang kau kuasai, sajak yang kau cinta, sajak yang menertawa, sajak yang meringis. Jika kau tak ingin membacakan sesajakmu itu, tak apa. Di depan nisan tanpa nama itu ikut terbaring berlembar-lembar sajak usang yang bisa kau baca. Tinggal kau baca saja. Tak perlu kau khawatir menangis, nisan itu sudah karat dibanjiri tangisan. Dan kau tahu, tangismupun tak mampu bangunkan Fajar dari makam itu. Ya, Sang Fajar, yang membangunkanmu senantiasa dalam lena kealpaan dengan cercah lembutnya. Maka tak perlu heran, jika pinggir kota kecil itu selalu kelam kala siang. Tak ada bulan yang bercahaya kala malam. Ayam jantan sudah lupa kapan harus berkokok. Tak usah heran, karena Fajar telah memilih untuk tidur di kedalaman tanah. Selamanya hingga ia dipanggil untuk menyeberang ke fase kehidupan selanjutnya. Tak usah heran, bacakan saja sesajak, karena ia menunggumu. Sajak itu.

 

(terinspirasi dari Jalaindra, sajak pemakaman matahari)

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.533 pelanggan lain

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: