Tulis

TULIS

Sebuah catatan kecil di tepi kaki langit

Bogor 13 April 2012, 08:34 WIB

menulis.

 Kun, kataNYA.

Maka jadilah. Apapun, semuanya. Semesta. Baik buruk, salah benar, ikhlas pamrih, sungguh malas, tenang gegabah, tegar rapuh, sedih gembira, riil imajiner. Melilit padu bak tambang. Emblem eksistensi disematkan. Diusung dalam bentukan yang sesuai kurikulum dan koridor yang ditentukan. Kurikulum yang tertulis.

Menulis, bukan sebuah dunia, menurutku. Ia tidak pernah punya dunia, eksistensi dunianya nol.

Mengkotakkan menulis dalam sebuah dunia, kongruen dengan menyusuti gelegar titelnya sebagai sebuah proses mahamakna. Menulis, lebih besar dari dunia. Bahkan dunia bisa mengalir didalamnya.

Berbagai dunia, tidak hanya satu. Cukup untuk semua dunia yang terdefinisi akal manusia.

Cukup untuk semua dunia yang direka manusia dan falsafah intelektualitasnya.  

Menulis, tak mensyaratkan apapun. Tak menuntut hadirnya sesiapapun.

Tak mesti punya kesigapan merekam momen. Tak perlu membakar jiwa analis. Tak butuh bekal berkarung bergudang kata-kata sastrawi. Karena ia sejatinya sederhana. Kesederhanaan yang mengandung berbagai macam seluk beluk kerumitan. Kesederhanaan yang menjinjing sifat luas tak terbatas.

Sesederhana berpikir..

Menulis, searti dengan melepas rantai karat belenggu di sayap pikiran. Menterbang bebaskannya sebebas-bebasnya, sejauh jarak yang mampu ia tempuh. Menarikan tarian makna sesukanya, apa saja. Membiarkannya berteriak sekeras kerasnya, hingga gugur daun-daun bimbang itu. Membolehkannya menjejak di tanah manapun, fana ataupun fiksi, menancapkan bendera-bendera biru melangit di puncak gunung-gunung tertinggi sekalipun. Melontarkannya melesat menembus celah-celah dimensi ketiga dan keempat, sembari memunguti serpihan bintang inspirasi dalam cekaman ruang hampa dan lubang hitam yang menyedot cahaya. Menikmatinya saat berdandan dengan dandanan apapun yang ia suka.

Lepas. Lepas yang tanpa embel-embel. Lepas yang tanpa syarat. Lepas saja!

Seperti Sang MAHA PENCIPTA, yang menulis. Menulis eksistensi dan ketiadaan. Menulis Lauhul mahfudz. Kerangka-kerangkanya bersemayam dalam logikaNYA. Diejawantahkan dalam satu kata mandraguna, “jadi”.

Menulis itu menyamankan diri. Ber-uzlah dari penatnya hal-hal biasa. Bercumbu dengan ide-ide yang tak berlogika. Menalarkan yang diluar nalar.

Menulis, menjadi diri sendiri. Percaya hidup mati pada konsepsi dan kontemplasi pikiran sendiri. Menulis, tak melulu bersapa dengan huruf, tak pula diatas kertas semata. Abstraksi, kenyataan, eksperimen, sejarah, usia, rezki, adalah tulisan. Hasil bebasnya pikiran.

Menulis dan bebaslah!

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.533 pelanggan lain

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: