Yang Mengalir, Yang Menancap, Saat Langit Memerah Malu

Yang Mengalir, Yang Menancap, Saat Langit Memerah Malu

(Bogor, 3 April 2011, 17:25 WIB)

Dua puluh gagak bersayap hitam beranjak satu-satu, merebahkan helai bulu kelam menuju langit yang memerah.

 ***

Sejuta guratan misteri yang terperangkap dalam aliran waktu

menyentuh ambang pikrianku yang masih saja bermain dengan penatnya hal-hal biasa

ketika ekor mataku berlabuh tertegun di ujung langit senja yang memayung, memerah

bersama desiran angin senja berseling teriakan anak kecil berlari usai

menyeret langkah, memaksa,

hingga ku terpatri di bongkahan batu, sejenak..Duduk.

 ***

Cabang pohon karet mengayun berujar salam perpisahan, pada gagak yang melepas cengkramannya menuju langit yang memerah.

***

aliran waktu mengaliri sela-sela kosong  sudut pikiranku yang meruang

perlahan kuhampiri pintu menuju dunia pikiran itu, membuka,

menghentikan dunia nyata, untuk menyelami aliran waktu yang semakin menderas

tertegun melihat bongkahan misteri bersampul tanda tanya besar

mengambang mengalir perlahan, tersenyum bersama gemericik aliran waktu.

kujulurkan tangan untuk meraih beberapa bongkahan itu,

membiarkan aliran waktu membelai lembut tanganku yang meringis.

 ***

Gagak terakhir bergaris kepala merah menyeru serak, dihempasnya sayap, menyusul gagak lain menuju langit yang memerah.

 ***

kubawa menepi bongkahan-bongkahan itu, dua-dua, membiarkan tetes waktu jatuh mengembun di sisi kanan kaki

semua terbuka, membunyikan decit merdu,  menarikan ujung kuduk

lembaran putih keluar, sembari menyelubungi kepala dari desisan aliran waktu,

tersenyum, merangkaikan rantai-rantai kata menjadi kalimat tanya dengan TANDA TANYA BESAR di ujungnya.

“bagaimana aku menjalani hidup yang diberikan padaku?”

“untuk apa aku jalani hidup yang diberikan padaku?”

“apa yang ku taut dalam setiap langkah yang kuambil?”

“di bagian kehidupan mana seharusnya aku berada?”

“bagaimanakah aku bila akan mati?”

“akan kemanakah aku setelah mati?”

lembaran itu melilit mengencang….

***

Serak suara gagak-gagak membahana seolah menerbangkan pintu senja di langit yang memerah.

***

lebaran penuh tanyaitu  kulipat kecil, kuselakan dalam lekukan otakku,

sembari kulantunkan kembali riuhnya dunia nyata,dengan sayup teriakan anak kecil mulai lenyap.

membawaku dari damai dunia pikiran yang hening.

berdiri, mengatur langkah, kembali melabuhkan ekor mata ke merahnya langit

menancapkan jawaban, tertikam tajam mendalam di sanubari yang membatu

“AKAN KULAKUKAN YANG TERBAIK DI SETIAP HELAAN NAFAS DAN BUTIRAN KERINGATKU, HINGGA LIPATAN KECIL DARI ALIRAN WAKTU YANG KUSIMPAN TIDAK LAGI MENJADI TANDA TANYA BESAR, MELAINKAN TANDA SERU YANG TERSENYUM SENANG!!”

Dua puluh burung gagak bersorak memelan di telan deru mesin menggerutu dan seok-seok langkah, menghilang bersama pudarnya langit yang memerah.

 

 


 

3 thoughts on “Yang Mengalir, Yang Menancap, Saat Langit Memerah Malu

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.533 pelanggan lain

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: