Lagu Yang Lelah

Lagu yang Lelah

Bogor 22 Maret 2012, 06:31 WIB

 

Ah, lama sudah tak kudengar lagi lagu itu. Lagu yang sempat memaksaku menitik-nitikkan gerimis air mata di kain merah putih saat sekolah menengah pertama. Lagu syahdu dengan legato empat kali empat, pernah kupelajari ketukannya saat sekolah dasar, saat menjadi ketua kelas dulu. Lagu yang semakin lama tidak kudengarkan lagi, seperti saat kudengarkan dengan setengah hati setengah pikiran dan setengah telinga ketika paduan suara menyanyikannya di upacara bendera tiap hari senin sewaktu Sekolah menengah Atas. Lagu yang terakhir kunikmati saat menjadi penghuni asrama semester 1 salah satu universitas “terpandang” di negeri ini, negeri yang kupanggil “si empunya lagu”.

Lagu aneh menurutku, yang menyebut diri sendiri penikmat musik. Aksen kuat sekaligus lembut mengalun dalam iramanya, tentu saja bagi yang menikmati. Mampu mengobrak-abrik suasana hati, sekaligus meluncur-luncurkan semangat ke stratosfer. Ia tak membuatku bergoyang, ia menegakkan badanku. Hentakan itu, ah. Memang sudah lama tak kunikmati.

Perjuangannya panjang, itu yang kubaca di buku-buku sejarah sekolah tentang lagu ini. Perjuangan mencapai kondisi kokoh secara fundamental. Perjuangan menggerakkan titik ekuilibrium bergulir dinamis. Perjuangan mengadaptasikan kestabilan. Perjuangan menarik turun kemerdekaan yang bersemayam di langit bawah sadar. Perjuangan mencari ide. Perjuangan menelusuri judul yang koheren. Perjuangan merangkai bait demi bait. Perjuangan meletakkan melodi dan transisi. Perjuangan meniupkan aliran energi. Perjuangan membuat sebuah lagu, kebangsaan!

Ia doa. “Indonesia raya, merdeka”, katanya. Ia pun curahan sekumpulan hati manusia yang hidup dan telah gugur. Ia pula harapan. “di sana aku berdiri jadi pandu ibuku”, katanya pula. Ia juga ikrar, sebuah ketetapan hati, jiwa dan semangat menancapkan diri di bumi pertiwi. “indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku”, tegasnya. Satu bentuk kongruen dari sosok-sosok kesatria yang diharapkan, disebut didalamnya. Satu bentuk pengharapan, antar generasi, menurutku. Lagu yang menggelegar.

Ia yang perlahan lelah, entah lelah bernyanyi, atau lelah dinyanyikan. Ia yang redup menyayup, bak sirene ambulan yang melemah seiring berjalan ke kejauhan. Semangatnya luntur, direndam kenyamanan selama enam puluh tujuh tahun di ember kemerdekaan. Ia yang tak mampu lagi menegakkan badan, mengobrak abrik susana hati. Ia, yang tak lagi dinyanyikan saat bangsa ini mengklaim diri telah dalam kedewasaan. Ia tak lagi menjadi asupan energi, saat gemerlap malam bangsa ini punya hentakan-hentakan sendiri, pengantar tidurnya. Tidak, bangsa ini tak pernah tidur. Semangat juangnya yang terlelap. Dan ia pun semakin dekat ke peraduan, ah, lagu itu.

Indonesia tanah airku Tanah tumpah darahku Disanalah aku berdiri Jadi pandu ibuku Indonesia kebangsaanku Bangsa dan Tanah Airku Marilah kita berseru Indonesia bersatu Hiduplah tanahku Hiduplah negriku Bangsaku Rakyatku semuanya Bangunlah jiwanya Bangunlah badannya Untuk Indonesia Raya Indonesia Raya Merdeka Merdeka Tanahku negriku yang kucinta

Indonesia Raya Merdeka Merdeka Hiduplah Indonesia Raya 

Indonesia Raya Merdeka Merdeka Tanahku negriku yang kucinta

Indonesia Raya Merdeka Merdeka Hiduplah Indonesia Raya

Tinggalkan Balasan

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 1.533 pelanggan lain

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d blogger menyukai ini: